Terhitung dari tanggal 21-30 November 2017 dua pelukis jagoan Gorontalo menyelenggarakan kegiatan “Exhibition On Paper”. Dari puluhan lukisan milik Om Fandy Rais dan Ka Pipin Idris yang terpampang di Galeri Riden Baruadi, aku lebih tertarik dengan lukisan milik Om Fandy. Walaupun banyak lukisan milik Ka Pipin yang lebih ngena dengan jaman now. Menurutku sangat terlihat dengan jelas perbedaan antara kedua pelukis tersebut, bukan hanya dari segi jenis cat airnya namun jika aku jelaskan lukisan milik Kak Pipin lebih ke fenomena yang terjadi saat ini dan lukisan milik Kak Pipin juga bisa disebut lukisan kritis. Berbeda dengan lukisan milik Om Fandy yang kebanyakan berbau soft. Lebih santai namun indah.
Jujur saja lukisan yang aku akan jelaskan ini awalnya membuatku bingung, sebenarnya lukisan ini sunset atau sunrise namun dengan melihat judul lukisan “Pulang” aku bisa tahu bahwa lukisan ini mengambarkan matahari yang akan tenggelam. Sejujurnya mau sunset atau sunrise aku tidak terlalu mempermasalahkannya, iya karena aku pecinta dua fenomena alam tersebut. Hehehee
Dalam lukisan milik om Fandy ini digambarkan seorang pria yang menaiki sepeda dengan latar belakangnya matahari yang akan tenggelam. Pria yang tidak diketahui masih muda atau sudah berumur ini bisa kita gambarkan sebagai seorang ayah. Seorang ayah yang mungkin saja baru pulang dari tempat kerjanya dengan menaiki sepeda tua atau mungkin saja seorang ayah yang bekerja sebagai petani dan bisa juga pekerjaan yang lainnya. Menurutku akan jauh lebih dramatis lagi jika seorang ayah yang digambarkan bukan berupa siluet, diperlihatkan cucuran keringat mengayuh sepeda akan menambah nilai dramatis sekaligus eksotis lukisannya. Rumput-rumput yang tumbuh di jalan seakan ada di pedesaan. Menurutku kesimpulan dari lukisan ini ialah seperti yang telah dijelaskan di atas; seorang ayah yang baru saja kembali saat petang dari tempat kerjanya dengan menaiki sepeda dengan latar pedesaan.
Aku memilih lukisan ini sebagai salah satu lukisan favorit dikarenakan ada gambar matahari yang akan tenggelam sedangkan gambar seorang ayah yang menaiki sepeda hanyalah pemanis di lukisan tersebut, menurutku.
Aku selalu jatuh cinta dengan apa yang Tuhan ciptakan; Senja, Fajar, Sunset, Sunrise, Alam dan kamu. Eaa wkwk.
