Masihkah Kau?

Masihkah Kau?


Langit sore berwarna jingga ketika Adrian melihat unggahan undangan pertungan itu. Nama di atasnya begitu familiar, seakan menamparnya dengan keras. Hana Adistya. Perempuan yang pernah ia cintai lebih dari hidupnya sendiri, yang lima tahun lalu pergi membawa separuh hatinya.


Adrian menelan ludah, jemarinya gemetar saat membaca nama lelaki yang tertera di samping Hana. Sebuah kenyataan yang selama ini ia tolak mentah-mentah. Hana akan segera menikah.


Malam itu, ia duduk di kamarnya, menatap kosong ke luar jendela. Angin malam berdesir pelan, seolah berbisik padanya, menggugah kenangan yang ia coba pendam selama ini. Ia sudah bersama Livia selama empat tahun, perempuan yang begitu sabar, penuh kasih, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang tak pernah bisa ia dustai. Ada ruang kosong dalam hatinya yang tak bisa Livia isi. Sebuah nama yang terus menghantui pikirannya, meski ia berusaha keras untuk menguburnya.


Di sisi lain kota, Hana duduk termenung di balkon apartemennya. Tangannya menggenggam cincin pertunangan yang diberikan Dio, pria yang akan menikahinya dalam waktu dua bulan. Ia mencintai Dio, setidaknya ia berusaha. Tapi kenapa di dalam hatinya masih ada ruang kosong yang tidak pernah bisa diisi? Ruang itu hanya bisa diisi oleh satu orang—Adrian.


Ia mencoba untuk bahagia. Ia ingin percaya bahwa Dio adalah takdirnya, bahwa ia tidak lagi terikat pada masa lalu. Namun, setiap malam, dalam keheningan yang pekat, pikirannya selalu kembali pada satu nama yang telah menjadi bayang-bayang di setiap langkahnya. Tiga kali ia menjalin hubungan setelah Adrian, tiga kali pula ia gagal. Setiap laki-laki yang hadir dalam hidupnya selalu ia ukur dengan satu standar yang tidak bisa mereka penuhi—Adrian.


Adrian berjalan di bawah lampu-lampu kota yang temaram. Dalam pikirannya, ia bertanya-tanya, bagaimana bisa seseorang masih memiliki kendali begitu besar atas hatinya, bahkan setelah lima tahun berlalu? Ia seharusnya sudah melanjutkan hidup, seharusnya merasa cukup dengan Livia, tapi mengapa setiap langkahnya seolah membawanya kembali ke satu nama yang ia coba lupakan? Sejak melihat unggahan itu, tidurnya tak lagi nyenyak. Pikirannya dipenuhi kenangan yang pernah ia bagi bersama Hana—tawa kecilnya, tatapan matanya, caranya mengusap rambutnya saat ia sedang lelah. Kenangan-kenangan itu seperti gelombang yang tak berhenti menghantam, membanjiri hatinya dengan kesadaran pahit bahwa perasaannya belum benar-benar mati.


Hana sendiri merasa tersesat dalam pikirannya. Ia memandangi cincinnya, bertanya-tanya apakah kebahagiaan bisa dipaksakan. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Dio adalah pilihan yang tepat, bahwa Adrian hanyalah bagian dari masa lalu yang tak seharusnya lagi ia pertimbangkan. Namun, setiap kali ia menutup mata, bayangan Adrian kembali hadir—suara beratnya yang menenangkan, cara ia mengucapkan namanya dengan penuh kelembutan, dan bagaimana pelukan Adrian dulu selalu menjadi tempat ternyaman. Lima tahun telah berlalu, tapi hatinya masih tertaut pada satu nama.


***


Takdir akhirnya mempertemukan mereka kembali, di sebuah kafe kecil yang dulu menjadi tempat favorit mereka. Hana tidak pernah menduga bahwa dalam langkahnya yang ringan sore itu, ia akan bertemu dengan seseorang yang selama ini bersembunyi dalam pikirannya. Di sana, duduk di sudut ruangan dengan secangkir kopi yang sudah mendingin, Adrian menatapnya. Mata mereka bertemu, dan dalam sekejap, waktu seolah berhenti.


Adrian yang lebih dewasa, lebih tenang, tapi masih dengan tatapan yang sama—tatapan yang dulu membuat Hana jatuh cinta.


Canggung. Begitulah suasana yang kini menyelimuti mereka. Keduanya tak bergerak, seakan masih mencerna kenyataan bahwa mereka benar-benar dipertemukan kembali. Hana merasa jantungnya berdegup lebih kencang, sementara Adrian hanya menatapnya dengan ekspresi sulit ditebak.


Hana melangkah mendekat, ragu-ragu, sementara Adrian masih duduk terpaku. Ia bisa saja berpura-pura tak melihatnya, bisa saja menghindari situasi ini, tapi hatinya berkata lain. Setelah lima tahun, mereka akhirnya berada di ruangan yang sama, menghirup udara yang sama, dengan segala kenangan yang masih menggantung di antara mereka.


“Boleh aku duduk?” tanya Hana, suaranya hampir berbisik. Entah apa yang membuat Hana berani mendekat ke meja tempat Adrian duduk.


Adrian mengangguk perlahan, lalu menarik kursi di hadapannya. Hana duduk, meletakkan tasnya di atas meja, berusaha mencari posisi yang nyaman meski hatinya masih dipenuhi kegelisahan. Mereka saling berpandangan, tak tahu harus memulai dari mana.


Adrian menggenggam cangkir kopinya, mencoba menyibukkan tangannya agar tidak terlihat gugup. Hana hanya menunduk, memainkan ujung lengan bajunya. Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Masing-masing dengan isi kepalanya. Sampai pada akhirnya...


"Sudah lama, ya," bisik Adrian, suaranya nyaris larut dalam gemerincing sendok dan percakapan samar para pelanggan di sekitar.


Hana mengangguk pelan, menelan sesak yang menyumbat tenggorokannya. “Iya… Empat tahun.” Ia sengaja menyebut angka itu, ia masih ingin terlihat bahwa tak terlalu banyak mengingat.


Adrian, yang sejak tadi menggenggam cangkir kopinya, sontak melirik ke arahnya. Alisnya sedikit berkerut sebelum ia berbisik, "Lima tahun, Nay.” Ia menyebut nama panggilan kesayangan itu dengan lembut, sekaligus meluruskan kekeliruan Hana—menegaskan bahwa ia masih mengingat segalanya dengan jelas.


Keheningan kembali menyelimuti mereka. Tiba-tiba mata Hana mulai memanas, dadanya terasa sesak. Betapa ia merindukan ini—duduk berhadapan dengan Adrian, merasakan kehadirannya. Tapi kali ini, rasanya ada dinding tak kasat mata di antara mereka, dinding yang mereka bangun sendiri dengan luka dan waktu.


Tanpa aba-aba, tanpa lagi memikirkan gengsi atau mempertahankan ego, Hana terisak. Tangannya gemetar saat menutupi wajahnya, seolah ingin menyembunyikan kepedihan yang tak lagi bisa ditahan. “Aku kira bisa bahagia tanpamu, Yan. Aku sudah mencoba… berulang kali. Tapi aku selalu mencari kamu dalam diri orang lain. Dan aku selalu gagal."


Suara Hana bergetar saat menyebut nama itu—Yan, panggilan yang menjadi kebalikan dari Nay, sebutan sayang yang dulu mereka ciptakan untuk satu sama lain. 


Adrian menatapnya lama, ada sesuatu dalam dadanya yang pecah mendengar pengakuan itu. Tanpa ragu, ia meraih tangan Hana, menggenggamnya erat. “Nay, aku rasa kita sudah berusaha. Kita sudah mencoba melupakan. Tapi kalau setelah lima tahun kita masih seperti ini… apa artinya?”


Hana menatapnya, air matanya jatuh tanpa henti, mengguncang tubuhnya yang tak mampu menahan isak. Bibirnya bergetar, ingin mengucapkan sesuatu, tapi kata-kata seakan tersangkut di tenggorokan.


Adrian tetap menunggu, matanya tak lepas dari Hana. Dengan lembut, ia menggenggam tangan gadis itu, seolah ingin menyampaikan kekuatan tanpa harus berkata apa-apa. Hingga akhirnya, suaranya terdengar lirih namun penuh makna, “Jadi… apakah itu berarti kita sebenarnya tak pernah benar-benar ingin pergi?”


Adrian mengangguk, tetapi suaranya tercekat. Tenggorokannya terasa kering, seolah semua kata yang ingin ia ucapkan tersangkut di sana. Dadanya sesak, dipenuhi perasaan yang selama ini ia tekan dalam-dalam. Namun kini, tembok pertahanannya runtuh.


Matanya memanas, dan tak berselang lama, air matanya jatuh—bukan sekadar tetesan, tetapi luapan dari segala yang selama ini ia pendam. Selama lima tahun, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia baik-baik saja, bahwa hidupnya tetap berjalan, bahwa perasaannya pada Hana hanyalah masa lalu. Tapi kini, di hadapan gadis yang ia cintai lebih dari siapa pun, ia tak bisa lagi berbohong.


Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengakui kenyataan yang selama ini ia hindari—ia tidak bisa hidup tanpa Hana.


Hana meremas jemari Adrian, menyalurkan seluruh kerinduan yang selama ini ia tahan. “Aku lelah, Yan. Aku lelah berpura-pura. Aku... Aku..." Hana terbata-bata.


Remasan jemari itu ditanggapi Adrian, seolah menjadi satu-satunya jangkar yang menahannya dari tenggelam dalam lautan emosi. Ia menunggu dengan napas tertahan, menunggu kata-kata yang akan keluar dari bibir Hana.


Hana menghela napas, suaranya hampir tak terdengar, tercekik oleh tangis yang belum sepenuhnya reda. “Aku tidak ingin pergi lagi. Apa aku bisa berharap… agar kita tidak berpisah lagi?”


Adrian menunduk, bahunya bergetar hebat. Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan isakan yang akhirnya pecah juga. “Aku juga, Nay… Aku juga tidak ingin berpisah lagi,” suaranya lirih, penuh kepasrahan, penuh ketakutan—sekaligus penuh harapan.


Dan di antara kepedihan yang selama ini mereka simpan sendiri, di dalam kafe kecil yang menjadi saksi bisu kisah mereka, mereka menangis. Menangisi waktu yang hilang, keputusan yang salah, dan luka yang seharusnya tak pernah ada.


Tanpa pikir panjang, Hana bergerak lebih dulu. Dengan mata yang masih basah, ia bangkit dari kursinya dan meraih Adrian ke dalam pelukannya. Adrian membalas tanpa ragu, melingkarkan lengannya erat-erat di sekeliling tubuh Hana, seolah takut jika ia melepaskannya, semua ini hanya akan menjadi mimpi lain yang menyakitkan.


Tidak ada kata-kata, hanya isakan yang tertahan di bahu masing-masing. Hana merasakan hangatnya tubuh Adrian, detak jantungnya yang berdegup kencang, begitu nyata, begitu dekat. Sementara Adrian menghirup aroma yang begitu familiar, aroma yang selama ini berusaha ia lupakan, namun justru menjadi satu-satunya hal yang selalu ia rindukan.


Pelukan itu bukan sekadar sebuah sentuhan. Itu adalah kepulangan. Itu adalah pengakuan. Itu adalah harapan yang akhirnya menemukan tempatnya kembali.

Aksaraku Menyimpanmu

Aksaraku Menyimpanmu

 

Malam kembali jatuh dengan sunyi yang melingkar di antara dinding-dinding kamar. Aku duduk di haadapan lembaran kertas yang telah menguning, menelusuri baris-baris kalimat yang kutulis bertahun-tahun lalu. Setiap kata terasa seperti jejak yang membawaku kembali kepadamu—kepada hari-hari yang dulu kita jalani bersama, kepada suara yang pernah memenuhi ruang kosong di dalam dada. Waktu terus berjalan, tapi di sini, dalam aksara yang kugoreskan, kau tetap tinggal, seolah tak tersentuh oleh usia. Aku membaca namamu berulang kali, dan dalam setiap pengucapannya, aku merasakan kehadiranmu yang samar, seperti bayangan yang enggan sepenuhnya menghilang.

Aku menulis tentangmu, tentang bagaimana matamu menangkap cahaya senja di beranda, tentang caramu menyebut namaku dengan lembut, seakan huruf-hurufnya terbuat dari sesuatu yang rapuh. Aku menulis tentang kita, tentang percakapan yang tak pernah selesai, tentang rencana-rencana yang akhirnya hanya menjadi mimpi yang tak pernah sempat diwujudkan.

Dan kini, setelah waktu merenggut kehadiranmu dari sisiku, aku bertanya-tanya: lalu di mana lagi kutemukan dirimu, jika bukan pada aksara yang telah kutulis dulu?

Mereka bilang, yang telah pergi akan benar-benar hilang jika tak ada yang mengingatnya. Tapi bagaimana mungkin aku melupakanmu jika setiap huruf yang kurangkai masih menyimpan bayangmu? Kau masih di sana—di sela-sela baris puisi yang belum selesai, di dalam metafora yang kupilih dengan hati-hati, di antara jeda yang menyimpan luka yang tak terucap.

Barangkali, inilah cara takdir membiarkanmu tetap hidup di dalamku. Bukan dalam wujud nyata, bukan dalam suara yang bisa kusapa, tapi dalam aksara yang terus mengekalkanmu. 

Kau menjelma menjadi diksi yang paling kurawat, menjadi kalimat yang paling kusayangi, menjadi cerita yang tak ingin kututup.

Dan jika suatu hari aku berhenti menulis, bukan berarti aku melupakanmu. Aku hanya telah berdamai dengan kepergianmu, menerima bahwa beberapa cerita memang ditakdirkan untuk berhenti tanpa akhir yang bahagia. Namun, selama aksara ini masih ada, kau tak akan pernah benar-benar hilang.

Sebab kata-kata adalah rumah terakhir bagi yang telah pergi. Dan aku memilih menyimpanmu di sana—di antara huruf-huruf yang selalu merindukanmu.


[CERPEN] SIAPKAH KITA?

[CERPEN] SIAPKAH KITA?



SIAPKAH KITA?

Siapkah kita saat dunia tiba-tiba lengang, ketika hiruk-pikuk suara berganti dengan lantunan kalimat yang menggema dari pengeras suara masjid? Saat keramaian yang kita kenal sehari-hari mendadak terhenti, dan hanya suara serak yang menggema di udara, mengumumkan satu kalimat yang tak ada seorang pun dari kita sanggup menampiknya:

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun… Telah meninggal dunia…” dan nama kita yang disebut.

Benarkah kita sudah siap menghadapi perjalanan ini? Saat nafas kita berhenti menjadi sekadar riwayat, adakah kita telah cukup menghimpun bekal yang akan menyinari jalan di antara sunyi dan misteri? Atau, dalam hati yang terdalam, masih tersimpan keresahan—bahwa mungkin perjalanan ini lebih asing, lebih kelam, dari apa yang pernah kita bayangkan? Di bawah langit yang membisu, kita dihadapkan pada pertanyaan yang tak terjawab: cukupkah semua yang kita perbuat, atau justru tertinggal lebih banyak hal yang kita abaikan, doa yang kita lupakan, kebaikan yang belum diselesaikan?

Bayangkanlah, saat hari itu tiba, ketika kegelapan perlahan memeluk, dan kerumunan berkumpul di depan rumah, di pelataran masjid, mengirim doa yang tak berbalas, menggumamkan nama kita dalam sayup yang tergetar.

Siapkah kita melepas dunia yang sering kali kita genggam erat, seakan kita takut kehilangannya? Apa yang telah kita persiapkan untuk pertemuan dengan keabadian? Seringkali kita lupa. Kita sibuk menakar kehidupan, menggenggam segala yang fana, tanpa pernah menghiraukan panggilan dari yang tak tampak, yang menunggu di balik tabir terakhir.

Kematian adalah kehadiran yang tidak kita undang, tetapi selalu menanti. Ia adalah tamu yang tak kenal waktu, yang datang tanpa permisi, bahkan di saat kita paling merasa hidup. Ia menyelinap tanpa suara, di antara hembusan napas, dalam detak jantung yang tak pernah benar-benar kita perhatikan.

Kematian adalah akhir yang tak pernah bisa kita tawar. Meski kita berlari sejauh mungkin, atau bersembunyi di balik segala pencapaian dan harapan, ia selalu setia menunggu. Layaknya bayang-bayang yang tak bisa dilepaskan, ia mendekat perlahan, menyatu dengan malam-malam kita, membayang dalam kesendirian kita. Kematian tidak peduli akan tawa kita, ambisi kita, atau harapan yang kita gantungkan di langit. Ia hanyalah jawaban terakhir, kepastian yang mutlak, yang hadir di luar kendali kita.

Saat ia tiba, kita hanya menjadi saksi bisu pada berakhirnya semua hal fana yang dulu kita anggap abadi. Cinta, rasa, segala ikatan dengan dunia—semuanya luluh, menguap, meninggalkan kita seorang diri, telanjang di hadapan takdir. Kematian adalah batas yang memisahkan segala yang kita tahu dan yang tidak kita ketahui, antara dunia yang dapat kita sentuh dan dunia yang tak terjangkau oleh mata.

Saat pengumuman itu menyebut nama kita, tak ada lagi yang bisa kita genggam selain jiwa yang siap atau tidak siap—yang dihadapkan pada kesunyian abadi.

Hari itu, dunia tak lagi memanggil kita dengan suara hangat yang pernah kita kenal. Hanya gema samar yang tersisa. Hanya doa yang terbang, membawa nama kita di antara malaikat yang mencatat setiap jejak kita—benarkah kita sudah siap menghadapi perjalanan ini?

Sekarang, pertanyaannya, “Sudah sampai mana kita mempersiapkan bekal itu?”

Karena pada akhirnya, siapa yang tahu, bahwa hari ini mungkin detik terakhir sebelum nama kita dipanggil, dan gema itu menyebar, melintasi sunyi, menghadap Ilahi.


[CERPEN] CINTA PERTAMA, LUKA PERTAMA

[CERPEN] CINTA PERTAMA, LUKA PERTAMA


CINTA PERTAMA, LUKA PERTAMA

Bentakan keras membelah keheningan malam, membentur dinding-dinding rumah kecil itu, mengguncang setiap sudut yang sepi. Mata Sinta membelalak, jantungnya berdetak kencang dalam ketakutan yang tak kunjung pudar.

“Anak bodoh! Tak ada gunanya! Kau pikir, hidup ini main-main?” suara ayahnya menggema, penuh amarah yang selalu siap menerkam. Tubuh Sinta tergetar, tak berani mengangkat wajahnya. Ia tahu, tatapan itu—tatapan yang tajam dan penuh celaan—akan menusuk jiwanya lagi.

Sekali lagi, telapak tangan ayahnya membekas di pipinya, menyisakan rasa panas dan perih yang menyebar hingga ke hatinya. Sinta menunduk, menahan tangis yang sudah menggenang, berusaha menguatkan diri, meski entah untuk apa lagi kekuatan itu. Di balik matanya yang terpejam, ia berharap ada tempat lain di dunia ini yang mampu memberinya pelukan, bukan rasa sakit. Namun, sepertinya yang ada hanyalah malam yang terus bisu, menyimpan rahasia luka-lukanya dalam diam.

“Ayah…. Aku sudah berusaha,” suaranya lirih, nyaris tak terdengar di tengah kemarahan ayahnya.

“Berusaha? Ha! Usaha macam apa yang membuat kau selalu gagal? Kau cuma beban, tahu?!” Ayahnya meludah dengan kebencian yang entah dari mana datangnya. “Anak lain bisa membanggakan orang tuanya, tapi kau? Cuma bisa bikin malu keluarga!” Bentakan itu menusuk hati Sinta, seolah setiap kata dirancang untuk meruntuhkan dirinya yang sudah rapuh. "Seumur hidup, aku menyesal punya anak seperti kamu," lanjutnya tanpa ragu, membuat dada Sinta terasa sesak, seperti diikat oleh rasa kecewa yang tak bisa ia lepaskan.

Kata-kata itu seperti pisau yang mengiris perasaannya, menancap hingga ke dasar hatinya. Sinta berdiri mematung, merasakan hawa dingin merayap ke seluruh tubuhnya, meski di pipinya masih terasa panas bekas tamparan tadi. Napasnya tercekat, seolah tak ada lagi udara di ruangan sempit itu. Seakan-akan dinding-dinding rumah itu merapat, menghimpitnya, mendorongnya untuk menyusut menjadi sekecil mungkin, agar tak terlihat, agar bisa lenyap dari pandangan ayahnya.

Matanya mulai kabur oleh air mata, tapi ia tahu ia tak boleh menangis—tidak boleh jika di hadapan ayah yang hanya akan menganggapnya lemah. Dengan susah payah, ia mengangkat wajahnya, namun nyalinya surut ketika melihat kilatan dingin di mata ayahnya yang tak sedikit pun menunjukkan rasa iba. Di dalam dirinya, ada suara kecil yang berbisik agar ia pergi, meninggalkan tempat yang selalu membuatnya merasa tak diinginkan. Tapi kakinya tak bisa bergerak, seolah akar dari luka-luka itu telah menahannya di sana, di tempat yang tak pernah menganggapnya berarti.

Ayahnya masih berdiri di sana, napasnya memburu, namun tak sedikit pun ada tanda penyesalan di wajahnya. Matanya masih menyala dengan bara kemarahan yang seakan tak terpuaskan. Ia menatap Sinta dari ujung kepala hingga kaki, dengan tatapan dingin dan penuh penghakiman, seolah dirinya bukanlah darah dagingnya sendiri, melainkan beban yang tak diinginkan.

Sebelum berbalik dengan langkah berat yang menghentak lantai, ia menatap sekali lagi ke arah Sinta dengan pandangan yang nyaris kosong, tak ada kelembutan, tak ada pengakuan seorang ayah kepada putrinya. Hanya kebencian yang entah dari mana asalnya. Lalu, pintu kamar dihempaskan, dan suara langkah-langkahnya perlahan menghilang di lorong. Meninggalkan Sinta sendirian, dengan sisa bau kemarahan yang masih mengambang di udara, meresap ke setiap sudut ruangan yang terasa semakin gelap dan menekan.

Dari kecil, Sinta tumbuh dalam bayang-bayang sosok ayah yang keras dan penuh tuntutan. Tak ada kenangan tentang pelukan hangat atau kata-kata lembut. Ayahnya selalu bersikap dingin, seolah menganggap kasih sayang adalah tanda kelemahan. Sejak usianya masih belia, Sinta telah terbiasa mendengar bentakan dan cacian setiap kali melakukan kesalahan, sekecil apa pun itu.

Saat teman-temannya menceritakan tentang ayah yang mengajarkan mereka bermain, atau mendukung mereka di panggung sekolah, Sinta hanya bisa diam dan menunduk. Ia tak tahu seperti apa rasanya dipeluk dan dipuji. Bagi Sinta, keberadaan ayah adalah sosok yang harus dihindari, bukan dicari. Bahkan ketika Sinta berusaha sekuat tenaga untuk membuat ayahnya bangga, usahanya selalu disambut dengan cemooh dan kritikan. Ketika ia pulang dengan nilai bagus atau penghargaan, ayahnya hanya menganggap itu sebagai kewajiban. Dan jika ia melakukan kesalahan, sekecil apa pun, tamparan dan kata-kata kasar tak pernah absen. Seiring waktu, Sinta mulai paham bahwa ia tak bisa memenuhi harapan ayahnya, karena dalam pandangan ayah, dirinya selalu kurang, selalu salah.

Malam-malam panjangnya penuh dengan keheningan yang menyakitkan. Sering kali, ia bertanya-tanya sendiri di dalam gelap kamarnya, mengapa ia tidak bisa mendapatkan sosok ayah yang seperti di cerita-cerita, yang mencintai tanpa syarat dan melindungi dengan kasih.

Sinta teringat pada kisah dalam buku-buku yang dibacanya diam-diam, di mana para ayah menjadi pahlawan yang gagah, penuh cinta, selalu melindungi anak-anak perempuannya. Ayah yang akan mengangkat mereka ketika terjatuh, bukan menampar dan menendang ketika mereka salah.

Malam itu, di tengah remang kamar yang dingin, ia mendekap dirinya sendiri, mencoba menghangatkan hati yang terlalu sering dirundung sepi dan kebencian. Ia sadar, dalam hidupnya yang sunyi, tak ada cinta pertama yang ia harapkan dari sosok ayahnya. Ayah baginya adalah luka pertama, luka yang dalam dan tak bisa dihapus,

Sinta berbisik dalam hati, “Seandainya, hanya seandainya, Ayah bisa menjadi tempatku pulang, tempatku merasa aman.” Tapi harapan itu hanya tinggal harapan yang pudar seiring waktu, hanyut bersama air mata yang tumpah malam itu. Kini, ia menyadari bahwa cinta yang diimpikannya mungkin tak pernah akan datang dari sosok ayahnya, dan perlahan, ia belajar menerima—menerima bahwa ada luka yang takkan pernah sembuh, namun tetap harus diterima sebagai bagian dari hidupnya. Luka itu mungkin akan selalu mengingatkannya pada rasa sakit yang mendalam, tetapi ia juga tahu, ayah adalah ayah—bagian dari hidupnya yang tak bisa ia ubah, sosok yang meski penuh kekurangan, tetaplah orang tua yang telah memberinya kehidupan. Sinta, dengan segala ketegaran, memilih untuk memaafkan dalam diam, merelakan luka itu ada tanpa lagi menyalahkan, dan membiarkan rasa ikhlas tumbuh di dalam dirinya.

[CERPEN] JALAN PULANG YANG HILANG

[CERPEN] JALAN PULANG YANG HILANG


 

JALAN PULANG YANG HILANG

Aku duduk di tepi dermaga, menatap garis horison yang perlahan terbenam dalam semburat jingga. Jemariku menggenggam secangkir kopi yang telah dingin, tapi kuhirup juga aroma pahitnya, berharap bisa menenangkan gejolak yang tak lagi mampu kuredam. Angin sore mengusap wajahku dengan lembut, seolah ingin membisikkan sesuatu yang tak pernah kumengerti.

Di sekelilingku, bayangan nelayan yang bersiap pulang dan suara ombak yang berkejaran menjadi latar dari kesunyian ini. Namun, rasanya semua hanya hampa, hanya kebisingan yang menggenang tanpa arti. Tanpa dirimu, tempat ini tak lagi sama, sepi menggema dan melenggang tanpa ujung.

Di bawah langit senja yang renta, langkahku terasa seperti beratnya bumi yang kusangga sendiri. Kepergianmu seperti deru angin yang menghempas jiwaku tanpa sisa. Kini, setiap jalan hanyalah lorong kosong yang tiada berujung, sebuah labirin tak terpecahkan yang mengasingkanku dari segala arti pulang.

“Aku tak mencari peta yang menuntunku pulang. Karena tanpamu, tak akan ada lagi jalan pulang yang sebenar-benarnya.” Batinku.

Pernah, aku menggenggam tanganmu seperti memeluk senja yang karam di ufuk barat. Dalam jari-jemarimu, kutemukan tenang yang begitu sederhana. Wajahmu yang berbalut redup seolah menyatukan semua arah; di situlah aku menancapkan jangkar harapan dan menyandarkan segala rindu. Namun, waktu, dengan tak berperasaannya, menarikmu menjauh seperti ombak yang enggan kembali. Dan kini, engkau lenyap bagai bayangan yang dipadamkan malam, menyisakan aku dalam kekosongan yang tak terdeskripsikan.

Aku terus bergerak, sayangnya selalu kembali pada titik yang sama: satu sudut kenangan yang membisu, yang mencipta ruang tak bertuan dalam hatiku. Aku mendapati diri dalam perjalanan yang bukan untuk menemukan pulang, melainkan untuk melepaskan ingatan yang terjalin di antara jalinan waktu. Bukan lagi tentang kembali ke sebuah tempat, tetapi tentang meloloskan diri dari bayang-bayangmu yang terus mengikuti. Aku berjalan tanpa arah, bukan untuk sampai, melainkan untuk menyusuri setiap serpihan kenangan, berharap kelak akan pudar seiring langkah-langkah yang tak pernah berhenti.

Kamu tahu ‘kan? Tanpamu, jalan pulang hanyalah kata kosong yang kehilangan makna.

Mungkin aku bisa kembali ke sebuah rumah dengan dinding dan atap, tapi tanpa hadirmu, ia hanyalah bangunan tak bernyawa. Sebuah rumah, tanpa jiwa yang pernah kukenali sebagai 'kamu', bukanlah pulang. Pulang adalah tempat yang mengenalku, yang menerima tanpa syarat, yang menyisakan ruang untuk luka dan tawa tanpa harus menjelaskan apapun.

Aku mulai menyadari; tak akan ada lagi jalan pulang yang sebenar-benarnya, semua jalan hanya membawaku kembali pada kekosongan, sebab bayangmu masih bersemayam dalam tiap sudut ingatan yang tak bisa kuhindari.

Tepat saat aku mulai menerima kesendirian yang membentang, layar ponselku bergetar pelan, menampilkan namamu yang selama ini kukira telah hilang di luar jangkauan.

Pesanmu terbaca jelas, sederhana namun menggetarkan, "Aku ingin pulang pada pelukmu, saat ini juga. Kamu di mana?"

Hati yang sempat kubiarkan kosong itu tiba-tiba terasa penuh sesak, dibanjiri rindu yang sekian lama kupendam dan harapan yang pernah kuikhlaskan. Kata-kata itu seolah menuntun langkah yang sudah nyaris tersesat, memberi arah pada perjalanan tanpa tujuan, dan sekali lagi, aku merasakan seolah dunia ini menghamparkan jalan pulang yang selama ini hilang.

Ternyata, bukan aku yang kehilangan jalan pulang, hanya kamu yang terlalu lama berkelana.