Langit sore berwarna jingga ketika Adrian melihat unggahan undangan pertungan itu. Nama di atasnya begitu familiar, seakan menamparnya dengan keras. Hana Adistya. Perempuan yang pernah ia cintai lebih dari hidupnya sendiri, yang lima tahun lalu pergi membawa separuh hatinya.
Adrian menelan ludah, jemarinya gemetar saat membaca nama lelaki yang tertera di samping Hana. Sebuah kenyataan yang selama ini ia tolak mentah-mentah. Hana akan segera menikah.
Malam itu, ia duduk di kamarnya, menatap kosong ke luar jendela. Angin malam berdesir pelan, seolah berbisik padanya, menggugah kenangan yang ia coba pendam selama ini. Ia sudah bersama Livia selama empat tahun, perempuan yang begitu sabar, penuh kasih, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang tak pernah bisa ia dustai. Ada ruang kosong dalam hatinya yang tak bisa Livia isi. Sebuah nama yang terus menghantui pikirannya, meski ia berusaha keras untuk menguburnya.
Di sisi lain kota, Hana duduk termenung di balkon apartemennya. Tangannya menggenggam cincin pertunangan yang diberikan Dio, pria yang akan menikahinya dalam waktu dua bulan. Ia mencintai Dio, setidaknya ia berusaha. Tapi kenapa di dalam hatinya masih ada ruang kosong yang tidak pernah bisa diisi? Ruang itu hanya bisa diisi oleh satu orang—Adrian.
Ia mencoba untuk bahagia. Ia ingin percaya bahwa Dio adalah takdirnya, bahwa ia tidak lagi terikat pada masa lalu. Namun, setiap malam, dalam keheningan yang pekat, pikirannya selalu kembali pada satu nama yang telah menjadi bayang-bayang di setiap langkahnya. Tiga kali ia menjalin hubungan setelah Adrian, tiga kali pula ia gagal. Setiap laki-laki yang hadir dalam hidupnya selalu ia ukur dengan satu standar yang tidak bisa mereka penuhi—Adrian.
Adrian berjalan di bawah lampu-lampu kota yang temaram. Dalam pikirannya, ia bertanya-tanya, bagaimana bisa seseorang masih memiliki kendali begitu besar atas hatinya, bahkan setelah lima tahun berlalu? Ia seharusnya sudah melanjutkan hidup, seharusnya merasa cukup dengan Livia, tapi mengapa setiap langkahnya seolah membawanya kembali ke satu nama yang ia coba lupakan? Sejak melihat unggahan itu, tidurnya tak lagi nyenyak. Pikirannya dipenuhi kenangan yang pernah ia bagi bersama Hana—tawa kecilnya, tatapan matanya, caranya mengusap rambutnya saat ia sedang lelah. Kenangan-kenangan itu seperti gelombang yang tak berhenti menghantam, membanjiri hatinya dengan kesadaran pahit bahwa perasaannya belum benar-benar mati.
Hana sendiri merasa tersesat dalam pikirannya. Ia memandangi cincinnya, bertanya-tanya apakah kebahagiaan bisa dipaksakan. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Dio adalah pilihan yang tepat, bahwa Adrian hanyalah bagian dari masa lalu yang tak seharusnya lagi ia pertimbangkan. Namun, setiap kali ia menutup mata, bayangan Adrian kembali hadir—suara beratnya yang menenangkan, cara ia mengucapkan namanya dengan penuh kelembutan, dan bagaimana pelukan Adrian dulu selalu menjadi tempat ternyaman. Lima tahun telah berlalu, tapi hatinya masih tertaut pada satu nama.
***
Takdir akhirnya mempertemukan mereka kembali, di sebuah kafe kecil yang dulu menjadi tempat favorit mereka. Hana tidak pernah menduga bahwa dalam langkahnya yang ringan sore itu, ia akan bertemu dengan seseorang yang selama ini bersembunyi dalam pikirannya. Di sana, duduk di sudut ruangan dengan secangkir kopi yang sudah mendingin, Adrian menatapnya. Mata mereka bertemu, dan dalam sekejap, waktu seolah berhenti.
Adrian yang lebih dewasa, lebih tenang, tapi masih dengan tatapan yang sama—tatapan yang dulu membuat Hana jatuh cinta.
Canggung. Begitulah suasana yang kini menyelimuti mereka. Keduanya tak bergerak, seakan masih mencerna kenyataan bahwa mereka benar-benar dipertemukan kembali. Hana merasa jantungnya berdegup lebih kencang, sementara Adrian hanya menatapnya dengan ekspresi sulit ditebak.
Hana melangkah mendekat, ragu-ragu, sementara Adrian masih duduk terpaku. Ia bisa saja berpura-pura tak melihatnya, bisa saja menghindari situasi ini, tapi hatinya berkata lain. Setelah lima tahun, mereka akhirnya berada di ruangan yang sama, menghirup udara yang sama, dengan segala kenangan yang masih menggantung di antara mereka.
“Boleh aku duduk?” tanya Hana, suaranya hampir berbisik. Entah apa yang membuat Hana berani mendekat ke meja tempat Adrian duduk.
Adrian mengangguk perlahan, lalu menarik kursi di hadapannya. Hana duduk, meletakkan tasnya di atas meja, berusaha mencari posisi yang nyaman meski hatinya masih dipenuhi kegelisahan. Mereka saling berpandangan, tak tahu harus memulai dari mana.
Adrian menggenggam cangkir kopinya, mencoba menyibukkan tangannya agar tidak terlihat gugup. Hana hanya menunduk, memainkan ujung lengan bajunya. Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Masing-masing dengan isi kepalanya. Sampai pada akhirnya...
"Sudah lama, ya," bisik Adrian, suaranya nyaris larut dalam gemerincing sendok dan percakapan samar para pelanggan di sekitar.
Hana mengangguk pelan, menelan sesak yang menyumbat tenggorokannya. “Iya… Empat tahun.” Ia sengaja menyebut angka itu, ia masih ingin terlihat bahwa tak terlalu banyak mengingat.
Adrian, yang sejak tadi menggenggam cangkir kopinya, sontak melirik ke arahnya. Alisnya sedikit berkerut sebelum ia berbisik, "Lima tahun, Nay.” Ia menyebut nama panggilan kesayangan itu dengan lembut, sekaligus meluruskan kekeliruan Hana—menegaskan bahwa ia masih mengingat segalanya dengan jelas.
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Tiba-tiba mata Hana mulai memanas, dadanya terasa sesak. Betapa ia merindukan ini—duduk berhadapan dengan Adrian, merasakan kehadirannya. Tapi kali ini, rasanya ada dinding tak kasat mata di antara mereka, dinding yang mereka bangun sendiri dengan luka dan waktu.
Tanpa aba-aba, tanpa lagi memikirkan gengsi atau mempertahankan ego, Hana terisak. Tangannya gemetar saat menutupi wajahnya, seolah ingin menyembunyikan kepedihan yang tak lagi bisa ditahan. “Aku kira bisa bahagia tanpamu, Yan. Aku sudah mencoba… berulang kali. Tapi aku selalu mencari kamu dalam diri orang lain. Dan aku selalu gagal."
Suara Hana bergetar saat menyebut nama itu—Yan, panggilan yang menjadi kebalikan dari Nay, sebutan sayang yang dulu mereka ciptakan untuk satu sama lain.
Adrian menatapnya lama, ada sesuatu dalam dadanya yang pecah mendengar pengakuan itu. Tanpa ragu, ia meraih tangan Hana, menggenggamnya erat. “Nay, aku rasa kita sudah berusaha. Kita sudah mencoba melupakan. Tapi kalau setelah lima tahun kita masih seperti ini… apa artinya?”
Hana menatapnya, air matanya jatuh tanpa henti, mengguncang tubuhnya yang tak mampu menahan isak. Bibirnya bergetar, ingin mengucapkan sesuatu, tapi kata-kata seakan tersangkut di tenggorokan.
Adrian tetap menunggu, matanya tak lepas dari Hana. Dengan lembut, ia menggenggam tangan gadis itu, seolah ingin menyampaikan kekuatan tanpa harus berkata apa-apa. Hingga akhirnya, suaranya terdengar lirih namun penuh makna, “Jadi… apakah itu berarti kita sebenarnya tak pernah benar-benar ingin pergi?”
Adrian mengangguk, tetapi suaranya tercekat. Tenggorokannya terasa kering, seolah semua kata yang ingin ia ucapkan tersangkut di sana. Dadanya sesak, dipenuhi perasaan yang selama ini ia tekan dalam-dalam. Namun kini, tembok pertahanannya runtuh.
Matanya memanas, dan tak berselang lama, air matanya jatuh—bukan sekadar tetesan, tetapi luapan dari segala yang selama ini ia pendam. Selama lima tahun, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia baik-baik saja, bahwa hidupnya tetap berjalan, bahwa perasaannya pada Hana hanyalah masa lalu. Tapi kini, di hadapan gadis yang ia cintai lebih dari siapa pun, ia tak bisa lagi berbohong.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengakui kenyataan yang selama ini ia hindari—ia tidak bisa hidup tanpa Hana.
Hana meremas jemari Adrian, menyalurkan seluruh kerinduan yang selama ini ia tahan. “Aku lelah, Yan. Aku lelah berpura-pura. Aku... Aku..." Hana terbata-bata.
Remasan jemari itu ditanggapi Adrian, seolah menjadi satu-satunya jangkar yang menahannya dari tenggelam dalam lautan emosi. Ia menunggu dengan napas tertahan, menunggu kata-kata yang akan keluar dari bibir Hana.
Hana menghela napas, suaranya hampir tak terdengar, tercekik oleh tangis yang belum sepenuhnya reda. “Aku tidak ingin pergi lagi. Apa aku bisa berharap… agar kita tidak berpisah lagi?”
Adrian menunduk, bahunya bergetar hebat. Ia menggigit bibirnya, mencoba menahan isakan yang akhirnya pecah juga. “Aku juga, Nay… Aku juga tidak ingin berpisah lagi,” suaranya lirih, penuh kepasrahan, penuh ketakutan—sekaligus penuh harapan.
Dan di antara kepedihan yang selama ini mereka simpan sendiri, di dalam kafe kecil yang menjadi saksi bisu kisah mereka, mereka menangis. Menangisi waktu yang hilang, keputusan yang salah, dan luka yang seharusnya tak pernah ada.
Tanpa pikir panjang, Hana bergerak lebih dulu. Dengan mata yang masih basah, ia bangkit dari kursinya dan meraih Adrian ke dalam pelukannya. Adrian membalas tanpa ragu, melingkarkan lengannya erat-erat di sekeliling tubuh Hana, seolah takut jika ia melepaskannya, semua ini hanya akan menjadi mimpi lain yang menyakitkan.
Tidak ada kata-kata, hanya isakan yang tertahan di bahu masing-masing. Hana merasakan hangatnya tubuh Adrian, detak jantungnya yang berdegup kencang, begitu nyata, begitu dekat. Sementara Adrian menghirup aroma yang begitu familiar, aroma yang selama ini berusaha ia lupakan, namun justru menjadi satu-satunya hal yang selalu ia rindukan.
Pelukan itu bukan sekadar sebuah sentuhan. Itu adalah kepulangan. Itu adalah pengakuan. Itu adalah harapan yang akhirnya menemukan tempatnya kembali.

