Aku terlanjur kecewa pada sunset, ia tak pandai menyampaikan rindu. Entah karena tatapanmu yang membuat dia gugup atau memang hatimu yang terlalu tertutup.
Inginku berteriak pada sunrise memohon agar kau datang seperti mentari yang menghangatkan jiwaku.
Rupanya sekarang alam tak mau berkonspirasi denganku. Semua pesanku tak pernah disampaikan padamu atau mungkin kamu yang terlalu bodo amat dengan pesanku.
Alhasil, aku mengambil pena, yang aku gores penuh arti. Tapi tolong, jangan pergi dan tak perduli.
Ingat! Penaku ini abadi. Sekalipun kau pergi dan tak perduli, dia akan tetap abadi, selamanya.
Dan percayalah, kalo soal rasa, jemariku lebih jujur daripada mulutku.
Gorontalo, 9 Januari 2017
