Untuk Pria yang Tercinta

Untuk pria yang tercinta, kau bagai matahari yang menghangatkan hatiku.
Kala sore menerpa, dekapan hangatmu selalu ku rindukan. Pelukan dan kehangatannya masih melekat kuat dalam memoriku. Aku rindu dengan caramu membahagiakanku. Aku rindu dengan omelanmu saat aku sakit. Aku rindu manjamu disaat kau sakit. Aku rindu saat kau meminta pendapatku soal penampilanmu. Aku rindu dengan gaya khasmu bercermin. Dan aku rindu dengan cerita kesederhanaan darimu.
Untuk pria yang tercinta, yang tak selalu ada untukku, yang sering menghabiskan waktunya di depan layar 12 inch, yang jarang sekali bersikap manis terhadapku, yang tidak pernah mengatakan “aku sayang kamu” tetapi tetap menyayangiku lebih dari dirinya sendiri.
Untuk pria yang ku cinta, maaf, dulu aku tak mengindahkan semua nasihatmu, karena yang ku tau kau hanya memarahiku saat aku nakal, menasehatiku saat aku salah dan kau begitu gemar melarang-larang sesuatu yang aku suka.
Untuk pria yang sangat ku cinta, ketika aku SD kau sering berdongeng tentang burung kakak tua yang hinggap di jendela. Ketika aku SMP kau berkisah tentang seorang anak laki-laki bersaudara tujuh. Ketika aku SMA kau bercerita tentang pengalamanmu soal asmara, membantuku memecahkan masalah. Dan ketika aku kuliah kau tak pernah bosan menasehatiku tentang arti kehidupan.
Untuk pria yang ku sebut; Papa. Kau harus tau, aku banyak belajar darimu. Kesabaranmu. Ketekunanmu. Aku mengerti kenapa kau memenjarakanku saat SMA dulu. Aku mengerti kenapa kau membuat ku seakan-akan kehidupanku hanyalah sekolah-rumah-sekolah-rumah. Dan aku sangat berterimakasih untuk itu.
Untuk papa; cinta dan kasih sayang yang kau berikan tak akan pernah pudar, kau tak akan terganti oleh siapapun.
****
Dulu ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar, papa adalah orang yang tak selalu ada untukku bahkan aku dan mama sempat ditinggalkan selama dua tahun ke Surabaya. Seharusnya aku sebagai anak bangga kepadanya yang berusia kepala tiga tapi masih mampu mendapatkan beasiswa melanjutkan studi program magister di UNESA (Universitas Negeri Surabaya). Tapi saat itu aku masih terlalu kecil, masih ingin dimanja, disayang, bukan ditinggal untuk waktu yang lama. Ketidaksukaan dan kebencian dimulai saat itu. Memang ada mama di sampingku, tapi sebagai anak kecil aku ingin keluargaku lengkap. Mama sering bilang kalau saat papa telpon, papa kangen aku, ingin main denganku, tapi kenapa saat itu tidak memilih pulang? Saat itu aku merasa papa berbohong kepadaku dan saat itu pula aku rasa telah membuat jarak dengan papa.
Dulu ketika aku masih duduk di bangku sekolah, pernah terlintas di benakku untuk tidak menganggap dia sebagai papa. Pernah terlintas di benakku bahwa aku tidak ingin papa seperti dia. Papa yang terlalu sibuk, terlalu memikirkan dirinya sendiri yang seakan tidak mengerti apa yang anaknya mau. “Andai papaku bukan dia” benakku. 

Maafkan aku pa.
Papa, orang yang dulu sering marah kepadaku, memukulku dengan ikat pinggangnya, bersikap keras nan tegas, bermata tajam, bertubuh dingin, bersuara petir. Dia senang sekali melarang-larang sesuatu yang kusuka, tak semua keinginanku diiyakan. Andai saat itu aku mengerti apa tujuannya, mungkin pikiran kotor itu tidak akan terlintas di benakku.
****
Aku sadar papa tak mengandungku, tapi dalam darahku mengalir darah papa. aku tau bukan papa yang melahirkanku, tapi dari sujudnyalah aku lahir dengan selamat dan suaranyalah yang pertama kali ku dengar. Aku tau bukan papa yang menyusuiku, tapi ada keringatnya disetiap air susuku.
Papa pernah mendongengku tapi setiap kali papa mendongeng, papa lah yang pertama kali tertidur pulas hehe. Walaupun begitu papa terus menjamin agar aku tetap tertidur nyaman nan pulas.
Aku tak pernah melihat papa menangis, kata mama: papa ingin terlihat selalu kuat di mataku agar aku bisa bergantung padanya.
Aku tau kenapa papa jarang mendekapku erat, karena papa takut mencintaiku dengan sangat sehingga dia tak bisa melepaskanku saat tiba aku harus memiliki pria lain selain dirinya. 
****
Aku tak tau harus cerita apa lagi tentang papa, sekarang papa bagiku tempat bercerita yang paling asyik. Berdiskusi dengannya adalah hal yang selalu ku rindukan kala tumpukan tugas terlaknat menyita waktuku. Sekarang papa lebih menyerahkan segalanya padaku, aku sudah tak di penjara lagi walaupun ada beberapa kasus yang harus melibatkan persetujuan dari papa.
Aku gadis remaja yang sadar akan adanya cinta, papa pun tau akan hal itu. Tak pernah lelah papa menasehatiku, mengajarkanku cara agar mendapatkan pria yang baik. Papa senang mendengar bahwa ada beberapa pria yang senang denganku akan tetapi lagi-lagi papa mewanti-wanti agar aku tak salah pilih dan yang terpenting papa selalu berharap agar aku menyelesaikan studyku dulu.
Teruntuk kamu yang sudah ku ceritakan ke papa, papa ingin melihatmu secara langsung, papa ingin mengenalmu sebelum kamu lebih dekat lagi dengan putrinya.  Teruntuk kamu yang pelan-pelan mengambil alih posisi papa, sampai kapanpun papa adalah pria number one in my life.
Papa tau dalam agama tak pernah dibenarkan apa yang namanya pacaran, aku pun juga begitu, akan tetapi papa tak bisa memaksaku lagi untuk mengikuti kemauannya karena secara alamiah yang namanya rasa adalah normal. Semuanya dikembalikan lagi kepadaku dan semoga aku bisa berpegang teguh pada apa yang sudah aku janjikan pada diriku sendiri.
Teruntuk papa tercinta, aku tau surga ada di telapak kaki mama tapi surga tak akan ku raih tanpa keridhaanmu. Paa, kau adalah belahan jiwa mama,dalam tubuhku ada darah dan dagingmu, jadi tak ada alasan lagi untukku tak menghormati dan menyayangimu.