Judul : Bungkam Suara
Penulis : JS Khairen
Penerbit : Gramedia
Tahun Terbit : 2022
Ketebalan : 376 halaman
ISBN : 978-602-052-981-3
BLURB
Ini adalah Hari Bebas Bicara di Negara Kesatuan Adat Lawaknesia (NAKAL). Siapa saja boleh berbicara secara gamblang, terang-terangan, tanpa takut akan konsekuensi hukum. Setiap warga negara berhak berbicara: membongkar kejahatan, membeberkan penipuan, mengungkapkan keburukan. Tujuannya, agar tercapai keadilan untuk seluruh rakyat.
Namun, kawan, tujuan mulia ini berubah menjadi awan hitam. Jutaan aib terbongkar. Jutaan fitnah tersebar. Jutaan kebencian dan perundungan mengakar.
Rakyat berkelahi dengan rakyat. Tetangga dengan tetangga. Murid dengan guru. Karyawan dengan atasan. Anak dengan orangtua. Sahabat dengan sahabat. Kekasih dengan kekasih. Ucapan orang terdekat merobek dinding tiap rumah.
Ini adalah Hari Bebas Bicara. Setiap dendam, setiap benci, setiap amarah, lepas berkeliaran. Namun percayalah, kawan, orang jujur selalu ada, bak jarum dalam tumpukan jerami sekalipun.
***
Menurutku, Bungkam Suara memiliki konsep cerita yang unik terlebih dengan adanya singkatan2 yg agak nyeleneh atau malah terkesan ngehe wkwk. Pemilihan nama tokoh, singkatan nama2 kementrian sangat kreatif! Mantap!
Novel ini mengingatkanku ke novel Hujan Tere Liye--bahkan di beberapa part aku ngerasa sedang membaca tulisannya Tere Liye-- karena penulis menggambarkan dengan detail bagaimana teknologi terbaru itu bekerja, memberikan nuansa fiksi ilmiah yang menarik dalam setting cerita.
Penulis berhasil menyelipkan pesan moral yang kuat melalui kisah yang menggugah perasaan, dengan dialog-dialog yang tajam dan penuh makna. Setiap karakter memiliki kedalaman emosional yang membuat pembaca merasa terhubung, baik saat mereka berbicara dengan jujur maupun saat mereka terjerumus dalam kebencian.
Ceritanya mengandung unsur satire tapi satire2 utk politik, terlebih utk negara Konoha--soalnya kalo Indonesia dideskripsikan adalah negara yang indah. Iya sih, indah alamnya tapi tidak dengan.... Oke lanjut review..
Novel sangat-sangat-sangat memfokuskan pada cara bagaimana propaganda bekerja, terkomputasi itu seperti apa, dan bagaiamana komunikasi massa atau media itu digunakan.
Pembaca seakan dibuka matanya untuk melihat keadaan sekitar, apa yang sebenarnya terjadi, dan aku yakin pembaca lainnya juga menyadari apa yang terjadi di NKAL itu terjadi juga di Konoha wkwk. overall, novel ini relateable banget lah dengan kondisi saat ini.
Ohiya, novel ini ada kelanjutannya. Jadi, ditunggu aja!
"Hati rakyat yang terlalu sering retak, akan bergemuruh. Suara mereka lebih menakutkan daripada senjata paling mematikan"