Judul : Gadis Kretek
Penulis : Ratih Kumala
Penerbit : Gramedia
Tahun Terbit : 2019
Ketebalan : 288 halaman
ISBN : 978-979-228-141-5
BLURB
Pak Raja sekarat. Dalam menanti ajal, ia memanggil satu nama perempuan yang bukan istrinya; Jeng Yah. Tiga anaknya, pewaris Kretek Djagad Raja, dimakan gundah. Sang Ibu pun terbakar cemburu terlebih karena permintaan terakhir suaminya ingin bertemu Jeng Yah. Maka berpacu dengan malaikat maut, Lebas, Karim, dan Tegar, pergi ke pelosok Jawa untuk mencari Jeng Yah, sebelum ajal menjemput sang Ayah.
Perjalanan itu bagai napak tilas bisnis dan rahasia keluarga. Lebas, Karim dan Tegar bertemu dengan buruh bathil (pelinting) tua dan menguak asal-usul Kretek Djagad Raja hingga menjadi kretek nomor 1 di Indonesia. Lebih dari itu, ketiganya juga mengetahui kisah cinta ayah mereka dengan Jeng Yah, yang ternyata adalah pemilik Kretek Gadis, kretek lokal Kota M yang terkenal pada zamannya.
Apakah Lebas, Karim dan Tegar akhirnya berhasil menemukan Jeng Yah?
Gadis Kretek tidak sekadar bercerita tentang cinta dan pencarian jati diri para tokohnya. Dengan latar Kota M, Kudus, Jakarta, dari periode penjajahan Belanda hingga kemerdekaan, Gadis Kretek akan membawa pembaca berkenalan dengan perkembangan industri kretek di Indonesia. Kaya akan wangi tembakau. Sarat dengan aroma cinta.
***
"Gadis Kretek" adalah novel yang kaya akan sejarah dan budaya Indonesia. Cerita ini membentang sepanjang dekade yang menggambarkan perjalanan industri kretek dan kehidupan masyarakat Jawa di tengah pergolakan sosial dan politik. Menurutku penulis mengemas cerita yang memukau dengan latar belakang sejarah yang mendalam dan detail.
Latar belakang novel ini menggabungkan perkembangan industri kretek dengan kehidupan pribadi para tokohnya. Penulis berhasil menampilkan gambaran yang hidup tentang bagaimana kretek menjadi bagian penting dari budaya dan ekonomi Indonesia, serta bagaimana sejarah industri ini dipengaruhi oleh perubahan sosial dan politik di negara ini.
Karakter-karakter dalam "Gadis Kretek" juga digambarkan dengan mendalam, masing-masing dengan keunikan dan konflik internal yang membuat mereka terasa hidup dan nyata. Tema utama dari novel ini meliputi cinta, keluarga, warisan budaya, dan identitas. Penulis mengeksplorasi bagaimana cinta bisa bertahan di tengah cobaan waktu dan bagaimana sejarah keluarga dapat membentuk identitas seseorang. Selain itu, novel ini juga menyentuh isu-isu mengenai kelas sosial, patriarki, dan perjuangan individu melawan norma-norma masyarakat.
Deskripsinya tentang lingkungan Jawa, kehidupan sehari-hari, dan proses pembuatan kretek sangat mendetail, memberikan pengalaman imersif bagi pembaca. Bahasa yang digunakan penuh dengan nuansa budaya dan sejarah, yang menambah kekayaan cerita. Hanya saja, aku pribadi cukup bosan di awal-awal cerita ini, khususnya dari bagian 1-3, setelah dipaksakan ternyata semengelir itu ceritanya.
Ohiya, perpindahan plot di beberapa part terkesan kurang rapi sehingga pembaca yang masih hanyut dalam cerita dikagetkan dengan alur cerita yang berbeda. Saking detailnya penulis mendeskripsikan kretek aku jadi penasaran bagaiamana rasanya kretek itu hahaha.
"Aku ini wong lanang, masa aku cuman paitan awak. Di mana Harga diriku sebagai wong lanang? Sekarang aku kerja buat calon mertua, tinggal di tempat calon mertua, makan juga di sini." Hal 206