Jika Semua Pria Ragu, Lalu Wanita Tangguh Bersandar pada Siapa?
Sebuah
tuntutan tak kasatmata melayang di udara, menekan pundak setiap pria seperti
beban yang tak pernah surut. Pria bukan lagi hanya sosok pencari nafkah atau
penyangga keluarga, tapi juga dituntut menjadi penuh empati namun tetap tegas,
dan hadir di setiap momen wanitanya. Media sosial memperkuat narasi
itu—memamerkan pria-pria yang sukses dengan karier gemilang, tubuh berotot,
hobi mahal, dan dengan kehidupan keluarga yang harmonis. Sebaliknya, mereka
yang tersandung, mereka yang kalah di tengah jalan, seakan-akan menguap dari
percakapan. Tak ada ruang bagi mereka yang punya keraguan atau
kelemahan, seolah kegagalan bukan sekadar bagian dari perjalanan, melainkan
akhir dari eksistensi.
Dunia
seperti memberi tahu para lelaki bahwa mereka hanya berharga jika memenuhi
semua standar itu sekaligus. Mereka yang tak sanggup mengejar ideal-ideal itu
mulai menyusut dalam dirinya sendiri. Menjadi diri sendiri tak lagi cukup,
bahkan mengakui ketidaksempurnaan adalah dosa. Di balik meja kantor, di obrolan
santai setelah bekerja, dan di grup pertemanan, mereka saling menyembunyikan
kegelisahan yang sama, yaitu rasa takut bahwa mereka gagal menjadi pria seperti
yang seharusnya. Bahwa mereka hanyalah pecundang di dalam perlombaan yang tak
pernah mereka daftarkan. Entah standar itu siapa yang pertama kali
membuatnya, kenyataannya sudah seperti itu—mengakar dalam pikiran, diwariskan tanpa
sadar, dan dijalankan seakan tak ada pilihan lain.
Dewasa
kini, pria tiba-tiba mulai memudarkan dirinya sendiri. Mereka yang dulu
melangkah dengan bahu tegap dan tatapan lurus, kini berjalan seolah-olah ingin
menghilang. Di bar, di kafe, di ruang-ruang kerja, mereka bicara tentang
kegagalan, tentang ketakutan tak pernah cukup baik, dan terlebih tentang ketidakmampuan
melawan bayangan ideal yang entah siapa penciptanya.
Seperti
Setya—lelaki yang dulu adalah sumbu dari segala ambisi Nala. Setiap kali Nala
pulang dari rapat yang penuh cecaran kritik, Setya ada dengan senyum tipis dan
pundak yang selalu siap menjadi pelabuhan. Belakangan ini, Setya jarang bicara.
Ia lebih sering duduk di beranda, menyandarkan kepalanya pada kusen pintu
menatap langit senja yang membara, dengan sorot mata nestapa.
"Kenapa
kamu gak bilang apa-apa?" tanya Nala suatu malam, usai menutup laptopnya
yang penuh tabel dan strategi. "Kita selalu bisa bicara, kan sayang?"
Setya
menoleh, tapi hanya sebentar. Mata gelapnya yang dulu penuh rasa percaya diri
kini menunduk seperti kelam malam yang tak berbintang. "Aku takut kamu
merasa aku gak cukup. Kamu sudah terlalu jauh melangkah, sementara aku... hanya
begini."
Nala
tercekat. Apa yang harus ia katakan? Bahwa tak ada perlombaan di antara mereka?
Bahwa ia mencintai Setya bukan karena siapa yang lebih dulu sampai di puncak?
Kata-kata itu terasa basi. Di zaman di mana setiap orang memamerkan
pencapaiannya seakan hidup adalah papan skor, siapa yang percaya bahwa cukup
itu ada?
Di
kantornya, perempuan-perempuan lain pun mulai berbincang tentang hal yang sama.
Suami mereka mulai merasa kalah bahkan sebelum pertarungan dimulai. Mereka,
para pria, terjebak dalam bayang-bayang standar yang kian tak terjangkau:
harus kuat tapi lembut, harus sukses tapi rendah hati, harus berkuasa tapi
tetap setara. Akhirnya, ketakutan menjadi monster dalam cermin, merampas
keberanian mereka untuk sekadar hadir.
Nala
ingat percakapan dengan Setya suatu sore. "Aku gak tahu lagi, Nala,"
katanya, dengan suara pecah. "Kalau kamu bisa punya semuanya sendiri, buat
apa aku ada?"
Nala
hanya bisa menggenggam tangan Setya, tapi genggaman itu terasa rapuh. Ia tak
tahu bagaimana menyelamatkan Setya dari perang dengan dirinya sendiri. Ia sadar
bahwa yang sedang dihadapi Setya bukan sesuatu yang bisa dipeluk hingga reda,
melainkan kehampaan sunyi yang hanya Setya sendiri yang bisa menghadapinya. Dan
mungkin itulah yang paling menyakitkan—ia tahu bahwa cinta tidak selalu cukup.
Hari-hari
terus berlalu, semakin banyak perempuan di kantornya mulai bertanya-tanya,
"Kalau semua pria merasa tidak cukup, lalu siapa yang akan menjadi
sandaran kita?" Pertanyaan itu menghantui mereka, seakan menggema di
setiap percakapan tentang masa depan dan hubungan. Di tengah keberhasilan yang
mereka raih, terselip kekhawatiran: apa arti kesuksesan jika tak ada bahu yang
bisa dijadikan tempat pulang?
Nala
merasakan sunyi yang aneh. Ini bukan tentang karir atau cinta. Ini tentang
kerinduan akan keberanian seseorang untuk sekadar ada—untuk tetap berdiri meski
angin kencang menerpa, meski dunia menuntut lebih dari apa yang bisa diberikan.
Sebab, di balik ketangguhannya, perempuan pun butuh bahu untuk bersandar,
tempat di mana mereka bisa merasa rapuh tanpa dihakimi dan mengaku lelah tanpa
perlu berpura-pura kuat. Pada akhirnya, bukan sekadar cinta yang mereka cari,
tapi keyakinan bahwa ada seseorang yang bersedia tinggal, bahkan untuk jangka
waktu yang selamanya.
Malam
itu, Nala kembali ke beranda, duduk di samping Setya. Tidak ada kata yang ia
tawarkan, hanya kehadiran. Sebab ia sadar, mungkin bukan solusi yang dibutuhkan
Setya. Mungkin yang Setya butuhkan hanyalah keyakinan bahwa meski seluruh dunia
menolaknya, ia tetap memiliki tempat untuk pulang.
Untuk
kali pertama dalam waktu yang lama, Setya memandang Nala. Mata mereka bertemu,
meski tak ada janji apa-apa, dalam tatapan itu ada sesuatu yang utuh. Bukan
kemenangan, bukan kesempurnaan—hanya dua manusia yang akhirnya belajar bahwa
bersama-sama, mereka tidak harus selalu sempurna.