AMBISI KEHILANGAN ARAH
“Kenapa
pulang kalau cuma bawa penyesalan?” suara Pak Hasan mengalun tenang di tengah
senyap, serupa gemerisik daun kering yang terinjak pelan. Hendra hanya
menunduk, tak segera menjawab. Pertanyaan itu bukan sekadar ucapan, melainkan
tamparan bagi luka-luka yang sudah ia kubur dalam-dalam. Dari balik perjalanan
panjang yang tak berujung, ia pulang bukan karena ingin, melainkan karena
lelah. Kepulangan ini lebih menyerupai pelarian—dari kegagalan, ambisi, dan
kebisingan kota yang tak memberi ruang bagi jiwanya untuk bernapas.
"Aku
ingin berhenti," gumamnya nyaris tak terdengar, tapi di antara desis angin
malam, Pak Hasan menangkapnya dengan jelas, seolah itulah jawaban yang sedari
awal ia tunggu.
***
Malam
tiba dengan gemuruh angin yang melesak di sela-sela pepohonan, menyapu debu
jalan yang kosong. Di sebuah rumah tua—yang terkesan seperti gubuk tua, Hendra
duduk terdiam di kursi reyot, pandangannya tertuju pada remang lampu minyak
yang memantulkan bayangan aneh di dinding bambu. Udara dingin menjalari
tubuhnya, tapi bukan hanya karena cuaca—ada sesuatu di dalam dirinya yang
membekukan.
Dari
celah-celah dinding bambu yang mulai lapuk, suara jangkrik dan desau angin
saling bersahutan, malam itu terasa sepi dan asing. Hendra menarik napas
dalam-dalam, seolah berharap kesunyian itu mampu mengisi kekosongan dalam
dirinya. Di luar, bulan separuh mengintip malu-malu di balik awan tipis,
memantulkan cahaya pucat ke jalan setapak yang tak lagi ia kenali. Samar-samar
tercium aroma basah tanah dan dedaunan—bau khas desa yang dulu ia rindukan,
tapi kini hanya menyisakan perasaan hampa. Ia mengusap wajahnya dengan kasar,
berharap sentuhan dingin itu bisa mengusir segala kerumitan pikiran. Namun
semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin kuat kesadaran itu menyergap: tak
ada jalan pulang yang benar-benar utuh bagi mereka yang terlalu lama pergi.
Ia
baru saja pulang dari kota setelah bertahun-tahun meninggalkan tanah ini.
Semuanya terasa asing sekaligus menyakitkan. Ibu sudah tiada, rumah masa
kecilnya kini tinggal bayang kenangan yang rapuh. Orang-orang di desa
menyambutnya dingin, mereka tak lagi mengenal siapa dirinya, atau mungkin tak
peduli lagi. Kali ini ia merasa benar-benar jadi orang asing di tempat yang
dulu ia sebut rumah.
Di
sudut ruangan, seorang lelaki tua duduk bersila—Pak Hasan, memegang serbuk kopi
hitam yang pekat di dalam mangkuk tanah liat. Ia adalah lelaki tua yang setia
mendampingi ayah Hendra di masa lalu. Seakan waktu tak pernah menyentuh dirinya—wajahnya
tetap keriput seperti dulu, dengan mata yang memancarkan keteduhan sekaligus
rahasia.
“Jadi,
kau pulang juga akhirnya,” ujar Pak Hasan, suaranya datar tapi menusuk.
Mereka
sudah membicarakan hal ini sebelumnya, saat sore mulai beranjak redup dan angin
petang membawa keheningan yang canggung. Namun, malam yang dingin dan sunyi ini
seakan mengundang percakapan itu kembali, seperti luka lama yang belum
sepenuhnya kering dan harus diusik lagi. Seolah ada hal-hal yang tak bisa
dibiarkan mengendap begitu saja, harus diungkap, diurai, meski dengan rasa
sakit yang sama.
Hendra
tak menjawab. Ia hanya menunduk, memandangi jemarinya. Setiap pencarian dalam
hidupnya dan ambisi yang ia kejar, hanya meninggalkan kehampaan. Di kota, ia
ingin menjadi seseorang. Ingin dikenal. Ingin dihormati. Tapi semakin keras ia
berlari, semakin jauh ia merasa dari apa pun yang nyata.
“Ayahmu
dulu selalu bilang, ‘Hidup itu bukan tentang menang atau kalah, tapi tentang
tetap bertahan di antara semua keributan,’” Pak Hasan melanjutkan, sambil
menyeruput kopi pelan.
Hendra
memejamkan mata, seolah kata-kata itu mengiris batinnya. Keributan. Ya,
hidupnya penuh keributan. Keributan ambisinya, ketakutannya, terlebih kesepiannya.
Semua orang ingin sesuatu darinya—uang, pengakuan, kekuasaan—tapi tak ada yang
pernah bertanya apa yang sebenarnya ia inginkan.
“Aku
gagal,” gumamnya nyaris tak terdengar.
Pak
Hasan menatapnya dengan pandangan bijak, seakan telah memahami segala kesedihan
yang ada di dunia ini. “Apa yang membuatmu merasa begitu?”
“Aku
mencoba menjadi seseorang. Lebih dari sekadar diriku sendiri. Aku ingin menjadi
yang terbaik, yang tak tergantikan, seseorang yang bisa dikenang.” Hendra
tertawa getir. “Tapi pada akhirnya, aku hanya jadi pecundang.”
Pak
Hasan menyalakan rokok lintingannya, asap tipis mengepul, melayang-layang di
udara seolah membawa pesan tak kasatmata. Ia menghela napas panjang, seakan
ingin berkata sesuatu tapi menimbang kata dengan hati-hati.
“Kau
tahu, Hendra, hidup ini memang membingungkan. Orang-orang akan memintamu jadi
ini, jadi itu. Tapi kau tak perlu jadi apa pun yang bukan dirimu.” Ia berhenti
sejenak, matanya menatap jauh ke langit-langit. “Kamu bisa jadi apa saja, Hendra,
asal jangan jadi Tuhan.”
Kata-kata
itu menghantam Hendra seperti petir di langit tanpa awan, menyelinap ke dalam
relung jiwanya dan membuatnya seketika membeku. Tenggorokannya tercekat, seolah
ada sesuatu yang berat menekan dadanya—bukan hanya rasa kecewa, melainkan
kesadaran pahit yang tak bisa ia sangkal. Ia terdiam, tubuhnya terasa kosong
namun pikirannya gaduh, seakan semua ambisi dan pencapaian yang selama ini ia
kejar mendadak luruh tak berarti. Kalimat itu sederhana, tapi membawa beban
yang tak terduga—mengingatkannya bahwa menjadi manusia berarti belajar menerima
batas, bukan memaksakan kuasa atas segalanya.
Sepanjang
hidupnya, ia berusaha mengendalikan segalanya, menjadi sosok sempurna yang tak
pernah salah, yang selalu kuat di mata orang lain. Tapi pada akhirnya, ia
menyadari bahwa menjadi manusia berarti menerima ketidaksempurnaan—bahwa ada
batas yang tak boleh ia langgar. Ia menunduk, merasa kecil di hadapan kebenaran
itu, seolah seluruh keangkuhannya digulung dan dilempar jauh ke dalam jurang
sunyi.
Ia
tersenyum tipis, senyum yang tak datang dari kepuasan, melainkan penerimaan.
“Terima
kasih,” katanya pelan, seakan bicara pada dirinya sendiri.
Pak
Hasan tak menjawab, hanya mengangguk pelan sambil menghembuskan asap rokok
terakhirnya, seolah melepas segala rahasia yang telah lama ia simpan. Di luar,
angin malam berhembus semakin lembut, seakan menghapus semua keributan dalam
hati Hendra. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa
damai—bukan karena ia telah menemukan jawabannya, tapi karena ia berhenti
mencarinya.
Malam pun berlalu begitu saja.