[CERPEN] Kekacauan yang Manis

 


Kekacauan yang Manis

Ia datang seperti hujan di bulan kemarau—tak terduga, deras, dan membawa kekacauan yang manis. Hari-hari yang sebelumnya tenang mendadak menjadi seperti riak yang mengamuk. Aku tak pernah tahu kapan ia akan muncul, atau ke mana ia akan membawaku. Tapi aku suka, meski kadang cintanya terasa seperti angin topan: datang tanpa permisi, pergi tanpa petunjuk, dan di antara keduanya, meninggalkan serpihan yang harus kususun sendiri.

Ia mencintaiku seperti api mencintai kayu, membakar habis hingga tak tersisa. Tidak ada kompromi, tidak ada rencana matang. Semuanya meledak-ledak—kegembiraan, amarah, tawa, dan kadang juga tangis yang tiba-tiba pecah di tengah malam. Ketika ia memelukku, rasanya seperti dipeluk oleh seseorang yang takut besok tak ada lagi waktu. Ketika ia pergi, sepi selalu terasa lebih bising dari biasanya.

Aku tahu, cinta semacam ini bukan cinta yang mudah. Ada hari-hari ketika aku lelah mengejarnya, ada saat-saat ketika aku ingin berlari sejauh mungkin. Tapi entah kenapa, aku selalu kembali. Mungkin karena di antara segala kekacauan itu, ada momen-momen kecil yang membuatku merasa hidup lebih nyata. Seperti ketika ia tertawa begitu keras hingga menitikkan air mata, atau ketika, tiba-tiba, ia berhenti di tengah obrolan dan berkata, “Aku nggak tahu gimana bisa segininya cinta sama kamu.”

Ia bukan tipe orang yang menawarkan stabilitas. Ia tidak punya janji masa depan atau peta menuju bahagia. Tapi mungkin justru di situ letak rezekinya. Dicintai secara ugal-ugalan oleh seseorang yang tak kenal aturan membuat hidup jadi penuh kejutan. Seperti menari di atas jembatan reyot—menegangkan, tapi tak pernah membosankan. Bukankah kadang kita butuh itu, sesuatu yang liar, agar merasa hidup? Meskipun begitu, cinta seperti ini juga menuntut sesuatu yang tak pernah terucap—kesanggupan untuk kehilangan arah dan menerima bahwa luka bisa jadi bagian dari perjalanan. Di setiap tawa yang membahana, ada kesunyian yang mengintai di sela-selanya, menunggu saat yang tepat untuk muncul. Kadang, di tengah kehebohan dan candaannya yang sembrono, aku bertanya dalam hati: “Seberapa lama semua ini bisa bertahan?” Karena yang liar tak pernah menjanjikan tempat tinggal, hanya persinggahan. Dan mungkin, suatu saat nanti, aku akan mendapati diriku sendiri di ujung jalan, memunguti sisa-sisa kenangan yang tercecer. Tapi, sampai saat itu tiba, aku memilih untuk terus menari, meski di atas pijakan yang rapuh, dengan hati yang siap jatuh kapan saja.

Aku tidak tahu apakah ini cinta yang akan bertahan atau hanya badai sementara. Tapi hari ini, di tengah segala kekacauan yang ia bawa, aku tahu satu hal: rasanya menyenangkan, dicintai tanpa syarat, dengan cara yang tak terduga, yang tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya.

Dan jika ini termasuk rezeki, maka aku terima. Aku tak akan bertanya lebih jauh, karena ada beberapa hal di dunia ini yang tak perlu dipertanyakan, cukup dinikmati sampai habis—seperti hujan deras yang datang tiba-tiba, atau cinta yang menghantam tanpa aba-aba.