Kekacauan yang Manis
Ia
datang seperti hujan di bulan kemarau—tak terduga, deras, dan membawa kekacauan
yang manis. Hari-hari yang sebelumnya tenang mendadak menjadi seperti riak yang
mengamuk. Aku tak pernah tahu kapan ia akan muncul, atau ke mana ia akan
membawaku. Tapi aku suka, meski kadang cintanya terasa seperti angin topan:
datang tanpa permisi, pergi tanpa petunjuk, dan di antara keduanya,
meninggalkan serpihan yang harus kususun sendiri.
Ia
mencintaiku seperti api mencintai kayu, membakar habis hingga tak tersisa.
Tidak ada kompromi, tidak ada rencana matang. Semuanya
meledak-ledak—kegembiraan, amarah, tawa, dan kadang juga tangis yang tiba-tiba
pecah di tengah malam. Ketika ia memelukku, rasanya seperti dipeluk oleh
seseorang yang takut besok tak ada lagi waktu. Ketika ia pergi, sepi selalu
terasa lebih bising dari biasanya.
Aku
tahu, cinta semacam ini bukan cinta yang mudah. Ada hari-hari ketika aku lelah
mengejarnya, ada saat-saat ketika aku ingin berlari sejauh mungkin. Tapi entah
kenapa, aku selalu kembali. Mungkin karena di antara segala kekacauan itu, ada
momen-momen kecil yang membuatku merasa hidup lebih nyata. Seperti ketika ia
tertawa begitu keras hingga menitikkan air mata, atau ketika, tiba-tiba, ia
berhenti di tengah obrolan dan berkata, “Aku nggak tahu gimana bisa segininya cinta sama kamu.”
Ia
bukan tipe orang yang menawarkan stabilitas. Ia tidak punya janji masa depan
atau peta menuju bahagia. Tapi mungkin justru di situ letak rezekinya. Dicintai
secara ugal-ugalan oleh seseorang yang tak kenal aturan membuat hidup jadi
penuh kejutan. Seperti menari di atas jembatan reyot—menegangkan, tapi tak
pernah membosankan. Bukankah kadang kita butuh itu, sesuatu yang liar, agar
merasa hidup? Meskipun begitu, cinta seperti ini juga menuntut sesuatu yang tak
pernah terucap—kesanggupan untuk kehilangan arah dan menerima bahwa luka bisa
jadi bagian dari perjalanan. Di setiap tawa yang membahana, ada kesunyian yang
mengintai di sela-selanya, menunggu saat yang tepat untuk muncul. Kadang, di
tengah kehebohan dan candaannya yang sembrono, aku bertanya dalam hati: “Seberapa
lama semua ini bisa bertahan?” Karena yang liar tak pernah menjanjikan
tempat tinggal, hanya persinggahan. Dan mungkin, suatu saat nanti, aku akan
mendapati diriku sendiri di ujung jalan, memunguti sisa-sisa kenangan yang
tercecer. Tapi, sampai saat itu tiba, aku memilih untuk terus menari, meski di
atas pijakan yang rapuh, dengan hati yang siap jatuh kapan saja.
Aku
tidak tahu apakah ini cinta yang akan bertahan atau hanya badai sementara. Tapi
hari ini, di tengah segala kekacauan yang ia bawa, aku tahu satu hal: rasanya
menyenangkan, dicintai tanpa syarat, dengan cara yang tak terduga, yang tidak pernah
terpikirkan olehku sebelumnya.
Dan
jika ini termasuk rezeki, maka aku terima. Aku tak akan bertanya lebih jauh,
karena ada beberapa hal di dunia ini yang tak perlu dipertanyakan, cukup
dinikmati sampai habis—seperti hujan deras yang datang tiba-tiba, atau cinta
yang menghantam tanpa aba-aba.