Angin
sore menyisir rambutku, membawa harum tanah basah yang baru diguyur hujan.
Langit menggelap perlahan, seakan ikut berkabung atas kisah yang gagal menjadi
takdir. Di hadapanku, pelaminan berdiri megah dengan balutan kain kuning
keemasan dan ornamen pahangga[1] yang berbentuk segitiga dan
berwarna-warni dipasang di setiap tiang penyangga puade[2]—kombinasi yang dulu pernah
kita rencanakan bersama. Namun kini, hanya aku yang duduk di kursi pengantin,
merajut perasaan yang koyak.
Kursi
di sebelahku kosong. Tak ada dirimu di sana. Tak ada tangan yang harusnya
kugenggam erat, menenangkan gemetar halus di ujung jemariku. Pelaminan ini
adalah mimpi yang kita tata bersama, tetapi kenyataannya, aku di sini sendiri.
"Sudah
waktunya, Dinda," suara Bapak memecah lamunanku. Aku menoleh, mencari sisa
keberanian yang terselip di balik indahnya baju adat yang kukenakan. Senyum
beliau terasa getir, seolah menyembunyikan rasa bersalah karena telah melepasmu
pergi.
Semuanya
dimulai dari restu yang tak kunjung hadir. Dua keluarga kita bagai arus sungai
yang tak pernah bertemu, selalu memutar arah, selalu terbelit dalam ego dan
harga diri. Di satu sisi, ada ayahmu yang teguh menuntut untuk tidak
menggunakan adat istiadat leluhur. Di sisi lain, keluargaku yang ingin tunduk
pada tradisi. Masalah sepele, tetapi membuat kamu dan aku menjadi sepasang
burung kecil yang terperangkap di antara jeruji adat dan restu. Waktu terus
berjalan, tapi kita hanya bisa mengepakkan sayap tanpa pernah benar-benar
terbang, terjebak di sangkar keputusan yang bukan milik kita. Rindu pun menjadi
teman bisu, mengendap dalam hati tanpa bisa disampaikan dengan lantang.
Kamu
pernah bilang, “Kita pasti bisa melawan dunia, sayang. Selama kita berdua.”
Tapi waktu mengajarkan sesuatu yang lebih kejam dari perpisahan—bahwa cinta
saja tidak cukup.
Hari
itu, di bawah rintik hujan, kamu datang dengan wajah yang lebih dingin dari
biasanya. Tanpa kata, tanpa air mata, hanya pamit yang terselip di ujung napas.
Kamu pergi seperti senja yang tergesa, meninggalkanku dengan langit kosong yang
tak lagi berwarna. Tak ada janji, tak ada “nanti kita bertemu lagi.” Kau tahu,
itulah yang paling menyakitkan—kepergian yang tak berjejak, yang tak menyisakan
harapan.
Kini,
pelaminan ini berdiri untuk sebuah pernikahan yang bukan kita objeknya. Semua
mata memandangku dengan simpati yang tak perlu, mengira bahwa aku berbahagia
karena telah menempuh jalan yang benar. Tapi mereka tidak tahu, di dalam hatiku
ada kamar-kamar yang tetap menyimpan namamu. Setiap senyum yang kupaksakan
hanyalah tirai tipis yang menutupi retak-retak luka, yang diam-diam bertambah
dalam tiap kali namamu terlintas. Suara rebana yang mengiringi prosesi ini, aku
mendengar gema janji-janji yang dulu pernah kita bangun, kini hanya bergaung di
ruang kosong.
Orang-orang
berlalu-lalang, membawa nampan penuh kue dan gelas berisi es sirup. Di antara
keramaian, aku melihat bayanganmu—atau mungkin sekadar bayanganku sendiri.
Sosokmu yang dulu selalu menenangkan, kini hanya hadir sebagai hantu yang
enggan pergi.
“Boleh
saya duduk di sini?” Sebuah suara memecah lamunanku. Aku menoleh, dan di sana
ada sosok pria yang kini menyandang gelar sebagai suamiku. Dia tersenyum
lembut, seakan mencoba menambal luka yang ia tak tahu asalnya. Aku mengangguk
perlahan, menyeret senyum yang terpaksa.
Kami
duduk berdampingan, dua jiwa asing yang dipaksa menyatu. Aku menatap cermin
kecil di tanganku, melihat pantulan wajah yang nyaris tak kukenali. Di balik
riasan tebal dan senyum palsu, ada perempuan yang kehilangan separuh mimpinya.
Aku menghela napas panjang, seakan berharap udara yang kutarik mampu
menenangkan kekacauan di dalam dada. Tapi kosong—seperti pelaminan ini, seperti
senyumku, seperti seluruh kehidupan baruku. Di sebelahku, pria
itu—suamiku—masih tersenyum tenang. Senyumnya sopan, tapi ada kehampaan yang
tak bisa kutampik. Kami mungkin duduk di kursi yang sama, namun jarak di antara
kami lebih luas dari samudra.
“Apa
kau bahagia, Dinda?” tanyanya tiba-tiba. Suaranya lembut, tapi asing. Aku
menoleh, menatap matanya yang jernih namun tak dapat kutemukan jawaban di
dalamnya. Pertanyaan itu melayang di udara, menggantung seperti kabut sore yang
enggan pudar. Aku mencoba meraba hatiku sendiri, tapi yang kutemukan hanyalah
sunyi yang panjang.
“Aku
tidak tahu,” jawabku, lebih kepada diri sendiri. Kata-kataku terdengar seperti
bisikan angin—tanpa arah, tanpa tenaga. Ia mengangguk kecil, seolah menerima
jawaban itu dengan ketenangan yang terlalu sabar.
Orang-orang
masih berlalu-lalang di depan kami, memberi selamat dan mendoakan kebahagiaan. Aku
hanya duduk di sini, seperti boneka yang dijahit dari harapan orang lain.
Pikiranku
melayang pada suatu sore, hari terakhir kita bertemu. Saat kau genggam tanganku
erat di bawah hujan, sebelum akhirnya melepaskannya dengan berat. Sejak itu,
aku tahu; kita bukan kalah, kita hanya tak pernah punya kesempatan untuk
menang.
***
Hari
ini, aku menikah, tidak denganmu, sayang. Tapi di dalam hatiku, aku tahu bahwa
pelaminan ini bukan hanya perayaan, melainkan persemayaman untuk cinta yang tak
pernah bertemu takdirnya.
Kursi
kosong di sebelahku mungkin telah terisi, tetapi kenangan tentangmu akan selalu
tinggal. Dan di antara senyum-senyum tamu dan denting gelas yang beradu, aku
menyadari satu hal; ada pelaminan-pelaminan yang hanya bisa kita dirikan di
hati, bukan di dunia nyata.
Pelaminan
tanpamu, bukanlah bahagia yang kupinta.
[1]
Pahangga adalah gula aren padat yang banyak diproduksi secara rumahan oleh
Masyarakat Gorontalo
[2]
Pelaminan