TAKE ME TO JANNAH
Hasna
menatap cermin di kamar apartemennya dengan tatapan kosong. Gaun putih yang
dulu ia pilih dengan penuh harapan kini terlipat rapi di sudut lemari.
Pertunangannya dua bulan lalu berakhir mendadak. Bukan pertama kalinya rencana
bahagia itu runtuh—ini sudah yang ketiga kalinya. Hasna menarik napas panjang,
tapi sesak itu masih terasa, seolah menetap di dadanya. Rasanya semua usaha dan
cinta yang ia berikan selama ini hanya berujung sia-sia. Ia bertanya-tanya, apa
Tuhan sedang menghukumnya, atau mungkin memang kebahagiaan bukan untuknya?
“Kenapa
selalu gagal, ya?” gumam Hasna, berusaha menahan tangisnya agar tidak kembali
pecah.
Dulu,
ia pernah merasa begitu dekat dengan kebahagiaan. Pertama kali saat ia dilamar
oleh senior di kampusnya. Namun, hubungan itu kandas karena seniornya sering
menunda-nunda hari pernikahan mereka. Yang kedua, ia nyaris menikah dengan
kawan barunya yang berasal dari Pulau Sumatera, tapi hubungan mereka berakhir
saat pria itu memutuskan kembali pada mantan kekasihnya. Kini, pertunangan yang
baru ini pun berakhir dengan alasan yang klise; “Kamu hidupnya terlalu
terorganisir, sedangkan aku hidup dengan cara mengalir apa adanya.
Kekecewaan
yang Hasna rasakan begitu mendalam, seperti luka terbuka yang terus-menerus
diberi perasan jeruk nipis—perih, menusuk, dan tak tertahankan. Setiap kali
kenangan-kenangan itu muncul, terutama saat ia mengingat rencana-rencana indah
yang tak pernah terwujud, hatinya kembali terkoyak. Rasanya seperti
ditinggalkan di tengah jalan saat hampir sampai di tujuan, membuatnya lelah
untuk memulai lagi dari awal. Ia menangis hingga dada terasa sesak, tetapi
ketika air mata berhenti, yang tersisa hanyalah kehampaan.
Setiap
kali hubungan berakhir, Hasna selalu berusaha bangkit. Tapi semakin sering ia
jatuh, semakin hampa rasanya. Ia mencoba sibuk bekerja, berlibur, bahkan
mengikuti kelas yoga, namun tetap saja ada kekosongan yang sulit ia isi. Ia
berpikir, mungkin dengan menyibukkan diri, rasa sakit itu akan memudar
perlahan, tapi kenyataannya justru semakin dalam menghantui. Malam-malam terasa
panjang dan sunyi, dan sering kali ia terbangun dengan rasa cemas yang datang
tanpa sebab. Di depan orang lain, ia tampak baik-baik saja, namun di dalam
dirinya, ada bagian yang retak dan tak pernah benar-benar utuh lagi.
"Ya
Allah," doanya suatu malam, "Jika memang jodohku bukan salah satu
dari mereka, aku pasrah. Berikan aku yang terbaik, seperti apa pun bentuknya.
Aku tak ingin lagi memaksakan sesuatu yang bukan untukku."
Ia
berhenti berdoa dengan permintaan spesifik seperti dulu. Tak ada lagi kriteria
soal tampan, mapan, atau memiliki kesamaan latar belakang. Yang ia minta kini
hanya satu: seseorang yang bisa membawanya lebih dekat kepada Allah.
Sebulan
setelah patah hati, Hasna merasa hidupnya seperti berjalan tanpa arah.
Hari-harinya diisi dengan rutinitas kosong—bangun, bekerja, pulang, dan berdiam
diri di kamar sambil menatap layar ponsel. Ia mulai kehilangan nafsu makan dan
sering kali merasa enggan bertemu orang, seakan-akan dunia di luar terlalu
ramai untuk hatinya yang hampa. Tangisan tak lagi terdengar, tetapi rasa perih
itu tetap menetap, membungkusnya dalam kesepian yang dingin.
Namun,
di tengah kekalutan itu, Hasna mencoba mencari ketenangan dalam ibadah. Ia
memaksakan diri memperbaiki salat yang sebelumnya sering ia tunda, berharap
menemukan makna baru di setiap sujudnya. Tak lama kemudian, ia mulai mengikuti
kajian di masjid terdekat, meski awalnya hanya duduk di pojok dan mendengarkan
tanpa banyak bicara. Dari sana, ia terhubung dengan komunitas yang
memperkenalkannya pada kajian online internasional—tempat di mana peserta dari
berbagai negara berbagi ilmu dan pengalaman spiritual.
***
Suatu
hari, ponselnya berdering. Pesan dari salah satu panitia kajian masuk, membuat Hasna
terkejut. “Ada seorang peserta bernama Mikael dari Swedia,” tulis panitia. “Dia
tertarik untuk mengenalmu lebih jauh dan ingin mengajakmu taaruf, jika kamu
berkenan.” Hasna terdiam sejenak, mencoba mencerna pesan itu. Mikael? Taaruf?
Pikiran Hasna berputar. Ia tak pernah membayangkan seseorang dari negeri jauh
dan berbeda budaya ingin menjalani proses serius bersamanya.
Ada
perasaan tak percaya bercampur ragu dalam hati Hasna. Apakah ini sebuah jawaban
atas doanya? Atau hanya sekadar ujian lain yang harus ia hadapi? Tapi yang
pasti, pintu baru kini terbuka, dan Hasna tahu, inilah saatnya untuk melangkah
dengan keyakinan—meski jalannya tak seperti yang pernah ia bayangkan.
“Jika
memang Allah berkehendak, aku ingin datang ke Indonesia, bertemu denganmu, dan
keluargamu.” kata Mikael di WhatsApp Group yang isinya hanya Hasna, panitia
kajian, Mikael, dan saudara kandung Hasna.
Mikael benar-benar datang untuk melamar, terbang ribuan kilometer dari Swedia menuju Jakarta hanya demi pertemuan singkat yang penuh makna. Ia mengatur perjalanan hanya untuk dua hari—cukup untuk bertatap muka dengan keluarga Hasna dan menyampaikan niat baiknya. Tidak ada keraguan atau basa-basi dalam keputusannya.
Setibanya di Jakarta, Mikael langsung menuju rumah Hasna,
mengenakan pakaian sederhana namun rapi, dengan senyum tulus yang menenangkan.
Suasana
prosesi lamaran terasa khidmat. Mikael dengan tenang menyampaikan niatnya di
hadapan ayah dan ibu Hasna, menjelaskan bahwa ia ingin membangun rumah tangga
yang diberkahi dan bersama-sama mendekatkan diri kepada Allah. Keluarga Hasna
mendengarkan dengan seksama, merasa terkesan dengan kesungguhan dan kerendahan
hati Mikael, yang meskipun berasal dari budaya berbeda, begitu menghormati adat
dan agama mereka.
Di
sepanjang acara, baik Hasna maupun Mikael sama-sama menjaga pandangan,
menundukkan mata dengan rasa malu yang hangat. Tak ada tatapan berlebihan,
hanya senyuman kecil dan pandangan sekilas yang terjaga dalam adab. Hati Hasna
berdebar, namun bukan karena ragu—melainkan karena haru, menyadari bahwa inilah
jawaban atas doanya selama ini.
Setelah
lamaran resmi diterima, Mikael kembali ke Swedia dengan hati ringan, membawa
berita gembira bahwa Hasna dan keluarganya menerima lamarannya dengan baik.
Sebuah awal baru telah dimulai—tak lagi seperti cinta yang gagal di masa lalu,
tapi hubungan yang berakar pada iman dan ketulusan.
***
Hari
pernikahan tiba. Gaun putih yang pernah Hasna simpan dengan getir kini ia
kenakan dengan perasaan utuh. Tak ada lagi air mata kesedihan, hanya
kebahagiaan yang tak terlukiskan. Saat berjalan menuju tempat akad, langkahnya
terasa ringan, seolah setiap jejak adalah bukti bahwa luka-luka di masa lalu
akhirnya terbayar. Di samping ada Mikael yang tersenyum lembut, Hasna merasa
tenang—ia tahu kali ini ia bersama seseorang yang akan selalu menggenggam
tangannya dalam suka maupun duka. Doa-doa yang dulu ia panjatkan kini terjawab
dengan cara yang tak pernah ia duga, lebih indah dari semua harapannya.
Di
hadapan penghulu, Mikael mengucapkan akad dengan fasih. Seketika, Hasna merasa
seluruh babak hidup sebelumnya—semua kegagalan dan kesedihan—adalah bagian dari
perjalanan menuju hari ini. Air matanya hampir jatuh, namun kali ini bukan
karena luka, melainkan rasa syukur yang begitu mendalam. Ia menyadari bahwa
setiap kehilangan di masa lalu sebenarnya sedang menuntunnya pada kebahagiaan
yang lebih sejati. Bersama Mikael, Hasna tahu ia tidak hanya menemukan cinta,
tapi juga ketenangan dan arah hidup baru yang lebih berarti.
***
Hasna menjalani babak baru dalam kehidupan, ia menyadari bahwa apa yang ia terima hari ini jauh lebih baik
dari semua harapan dan doa yang pernah ia panjatkan. Mikael bukan hanya sosok
suami yang baik, tetapi juga sahabat dan imam yang menguatkan iman mereka
bersama. Ia selalu mengajak Hasna untuk berdoa dan belajar agama, saling
mengingatkan untuk menjalani kehidupan sesuai ajaran-Nya. Dengan setiap langkah
yang mereka ambil, Hasna merasa semakin dekat dengan Jannah-Nya, menjadikan
cinta mereka sebagai jalan untuk meraih kebahagiaan abadi di dunia dan akhirat.
“Terima
kasih, Mikael,” bisik Hasna sambil menatap suaminya yang kini tertidur lelap di
sampingnya.
Dan
dalam hatinya, ia berbisik pada Tuhannya, "Ya Allah, Engkau memang
sebaik-baiknya perencana. Terima kasih karena Engkau memberi lebih dari sekadar
doa yang pernah aku panjatkan."