[CERPEN] SEBERAPA JAUH LAGI?

 


SEBERAPA JAUH LAGI?

 

Malam jatuh dengan sunyi. Angin dingin menyusup melalui celah jendela kamar yang lupa kututup rapat. Aku terbaring di atas kasur, di antara sprei yang kusut, menatap langit-langit seolah ada jawaban tersembunyi di sana. Kepalaku penuh, seperti ruangan yang dijejali barang-barang acak tanpa ada satu pun yang tertata. Ada tumpukan harapan yang belum tersentuh, rencana-rencana yang separuh jalan, dan kekhawatiran-kekhawatiran yang saling tindih, membuat semuanya berdesakan. Pikiran-pikiran itu berputar, tetapi tidak jelas arahnya. Rasanya seperti mendengar ratusan suara sekaligus, tapi semuanya berbisik terlalu lirih untuk kupahami. Dan semakin kucoba mengurai, semakin kalut semuanya, seolah benang-benang itu sengaja melilit lebih erat saat disentuh.

Aku ingin membuang sebagian, tapi tidak tahu yang mana. Semua pikiran terasa penting, tapi pada saat yang sama, tidak ada satu pun yang benar-benar berguna. Hanya memenuhi ruang, menggantung tanpa makna, dan yang paling melelahkan adalah tidak ada tombol berhenti. Aku terus tenggelam dalam hiruk-pikuk ini, sampai-sampai otakku terasa seperti balon yang hampir meledak, mengembang di ambang batas, menunggu sesuatu yang entah apa untuk membuatnya pecah.

"Padahal hidup untuk Tuhan dan nanti kembali ke Tuhan, kok bisa sepusing ini?" gumamku pelan, berharap mungkin ada malaikat yang lewat dan mendengar keresahanku. Mungkin ia bisa membawa pergi semua sesak ini. Tapi tentu saja tidak ada jawaban. Hanya malam yang semakin larut, menambah gelap di luar dan di dalam kepalaku.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengurai pikiran. Kapan ya semuanya mulai terasa serumit ini? Apa memang semua orang melewati jalan seterjal ini, atau hanya aku saja yang salah langkah? Bukankah selama ini aku sudah berusaha pasrah? Dalam setiap sujudku, aku selalu bilang, “Ya Allah, aku ikhlas, apa pun yang terjadi aku pasrahkan sesuai kehendak-Mu.” Tapi kenapa semakin aku pasrahkan, justru hidup makin terasa menghimpit dari segala arah?

Aku ingat waktu kecil, ayah, ibu, dan almh nenekku sering berkata kalau hidup itu hanya sebentar. Seberat apa pun jalannya, kita akan pulang ke tempat asal. "Dunia ini cuma perhentian sementara. Semua yang kau pegang sekarang hanyalah titipan," begitu kata mereka.

Tapi semakin aku dewasa, dunia justru terasa seperti labirin tanpa ujung. Setiap hari selalu ada hal yang harus dikejar—pekerjaan, ekspektasi orang-orang, tuntutan orang tua, tujuan hidup. Tak ada jeda. Semua tumpang tindih. Dan paling menakutkan, doa-doa yang dulu menenangkan kini terasa hambar, seperti rangkaian kata tanpa makna. Apakah aku sudah kehilangan arah? Apakah langkahku selama ini menuju jalan yang benar? Atau malah sebaliknya?

Aku teringat percakapan dengan seorang teman sebulan lalu. "Hidup tuh nggak perlu selalu diburu, Sa. Jalani aja. Kita nggak harus tahu semua jawabannya sekarang," katanya waktu itu.

Tapi bagaimana bisa aku menjalani hidup dengan tenang kalau dunia menuntut terlalu banyak? Bagaimana aku bisa diam, sementara di setiap sisi kehidupan ada hal-hal yang belum selesai? Seberapa jauh lagi aku mengejar semua itu? Rasanya aku ingin berhenti. Menepi sejenak. Tapi aku takut. Apa yang akan terjadi kalau aku berhenti? Apa aku akan tertinggal? Bagaimana jika semua usaha yang selama ini kulakukan jadi sia-sia? Apakah hidup akan terus berjalan tanpa peduli aku bertahan atau menyerah? Dan jika aku tersesat terlalu jauh, apa masih ada jalan untuk pulang?

Aku bangkit dari kasur dan berjalan ke arah jendela. Dari celah yang terbuka, aku menatap langit. Bintang-bintang berkerlap-kerlip di atas sana, seperti menertawakanku dalam diam. Mereka tampak tenang, seperti tidak pernah tahu apa itu resah dan bimbang. Mereka hanya—berjalan pada jalurnya tanpa bertanya-tanya. Mungkin hidup memang seharusnya begitu. Mungkin aku saja yang terlalu keras menolak apa yang sudah seharusnya kuterima. Barangkali bukan hidup yang mempersulitku, tapi aku yang terlalu sibuk mencari jawaban untuk hal-hal yang tak butuh dipertanyakan. Mungkin bukan tugas manusia untuk selalu mengerti, hanya menjalani dengan keyakinan bahwa semua ada waktunya. Tapi mengakui itu tidak mudah—aku terbiasa merasa harus selalu paham, selalu kuat, seolah-olah menerima ketidakpastian adalah bentuk kekalahan.

Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Dalam hati, untuk pertama kalinya, aku mengatakan sesuatu yang belum pernah kukatakan. "Aku lelah, Ya Allah. Tapi aku percaya pada-Mu. Aku takut, tapi aku tahu Engkau masih ada di sini."

Angin malam menyapu wajahku, membelai rambutku yang berantakan. Dan untuk sesaat, aku merasa sesuatu di dalam diriku ikut meluruh, meski hanya sedikit. Cukup, setidaknya untuk membuatku merasa tidak terlalu berat.

Lalu dalam keheningan itu, tiba-tiba aku menyadari bahwa “Pulang itu adalah terus berjalan. Semakin berjalan maju, maka semakin dekat dengan kepulangan, pulang pada yang benar-benar jadi tempat untuk kembali.”

Aku tersenyum tipis. Mungkin memang seperti itu caranya. Tidak apa-apa jika hidup terasa berat. Tidak apa-apa kalau langkahku terseok-seok. Karena Tuhanku tidak meminta aku ‘tuk jadi yang sempurna. Ia hanya memintaku untuk tetap berjalan menuju-Nya dan meninggalkan larangan-Nya—meski dengan napas terengah dan langkah yang goyah.

Dan di saat itulah aku tahu—aku akan baik-baik saja.