SEBERAPA JAUH LAGI?
Malam
jatuh dengan sunyi. Angin dingin menyusup melalui celah jendela kamar yang lupa
kututup rapat. Aku terbaring di atas kasur, di antara sprei yang kusut, menatap
langit-langit seolah ada jawaban tersembunyi di sana. Kepalaku penuh, seperti
ruangan yang dijejali barang-barang acak tanpa ada satu pun yang tertata. Ada
tumpukan harapan yang belum tersentuh, rencana-rencana yang separuh jalan, dan
kekhawatiran-kekhawatiran yang saling tindih, membuat semuanya berdesakan.
Pikiran-pikiran itu berputar, tetapi tidak jelas arahnya. Rasanya seperti
mendengar ratusan suara sekaligus, tapi semuanya berbisik terlalu lirih untuk
kupahami. Dan semakin kucoba mengurai, semakin kalut semuanya, seolah
benang-benang itu sengaja melilit lebih erat saat disentuh.
Aku
ingin membuang sebagian, tapi tidak tahu yang mana. Semua pikiran terasa
penting, tapi pada saat yang sama, tidak ada satu pun yang benar-benar berguna.
Hanya memenuhi ruang, menggantung tanpa makna, dan yang paling melelahkan
adalah tidak ada tombol berhenti. Aku terus tenggelam dalam hiruk-pikuk ini,
sampai-sampai otakku terasa seperti balon yang hampir meledak, mengembang di
ambang batas, menunggu sesuatu yang entah apa untuk membuatnya pecah.
"Padahal
hidup untuk Tuhan dan nanti kembali ke Tuhan, kok bisa sepusing ini?"
gumamku pelan, berharap mungkin ada malaikat yang lewat dan mendengar
keresahanku. Mungkin ia bisa membawa pergi semua sesak ini. Tapi tentu saja
tidak ada jawaban. Hanya malam yang semakin larut, menambah gelap di luar dan
di dalam kepalaku.
Aku
menarik napas dalam-dalam, mencoba mengurai pikiran. Kapan ya semuanya mulai
terasa serumit ini? Apa memang semua orang melewati jalan seterjal ini, atau
hanya aku saja yang salah langkah? Bukankah selama ini aku sudah berusaha
pasrah? Dalam setiap sujudku, aku selalu bilang, “Ya Allah, aku ikhlas, apa pun
yang terjadi aku pasrahkan sesuai kehendak-Mu.” Tapi kenapa semakin aku
pasrahkan, justru hidup makin terasa menghimpit dari segala arah?
Aku
ingat waktu kecil, ayah, ibu, dan almh nenekku sering berkata kalau hidup itu
hanya sebentar. Seberat apa pun jalannya, kita akan pulang ke tempat asal.
"Dunia ini cuma perhentian sementara. Semua yang kau pegang sekarang
hanyalah titipan," begitu kata mereka.
Tapi
semakin aku dewasa, dunia justru terasa seperti labirin tanpa ujung. Setiap
hari selalu ada hal yang harus dikejar—pekerjaan, ekspektasi orang-orang,
tuntutan orang tua, tujuan hidup. Tak ada jeda. Semua tumpang tindih. Dan
paling menakutkan, doa-doa yang dulu menenangkan kini terasa hambar, seperti
rangkaian kata tanpa makna. Apakah aku sudah kehilangan arah? Apakah langkahku
selama ini menuju jalan yang benar? Atau malah sebaliknya?
Aku
teringat percakapan dengan seorang teman sebulan lalu. "Hidup tuh nggak
perlu selalu diburu, Sa. Jalani aja. Kita nggak harus tahu semua jawabannya
sekarang," katanya waktu itu.
Tapi
bagaimana bisa aku menjalani hidup dengan tenang kalau dunia menuntut terlalu
banyak? Bagaimana aku bisa diam, sementara di setiap sisi kehidupan ada hal-hal
yang belum selesai? Seberapa jauh lagi aku mengejar semua itu? Rasanya aku
ingin berhenti. Menepi sejenak. Tapi aku takut. Apa yang akan terjadi kalau aku
berhenti? Apa aku akan tertinggal? Bagaimana jika semua usaha yang selama ini
kulakukan jadi sia-sia? Apakah hidup akan terus berjalan tanpa peduli aku
bertahan atau menyerah? Dan jika aku tersesat terlalu jauh, apa masih ada jalan
untuk pulang?
Aku
bangkit dari kasur dan berjalan ke arah jendela. Dari celah yang terbuka, aku
menatap langit. Bintang-bintang berkerlap-kerlip di atas sana, seperti
menertawakanku dalam diam. Mereka tampak tenang, seperti tidak pernah tahu apa
itu resah dan bimbang. Mereka hanya—berjalan pada jalurnya tanpa
bertanya-tanya. Mungkin hidup memang seharusnya begitu. Mungkin aku saja yang
terlalu keras menolak apa yang sudah seharusnya kuterima. Barangkali bukan
hidup yang mempersulitku, tapi aku yang terlalu sibuk mencari jawaban untuk
hal-hal yang tak butuh dipertanyakan. Mungkin bukan tugas manusia untuk selalu
mengerti, hanya menjalani dengan keyakinan bahwa semua ada waktunya. Tapi
mengakui itu tidak mudah—aku terbiasa merasa harus selalu paham, selalu kuat,
seolah-olah menerima ketidakpastian adalah bentuk kekalahan.
Aku
menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan. Dalam hati, untuk pertama
kalinya, aku mengatakan sesuatu yang belum pernah kukatakan. "Aku lelah,
Ya Allah. Tapi aku percaya pada-Mu. Aku takut, tapi aku tahu Engkau masih ada
di sini."
Angin
malam menyapu wajahku, membelai rambutku yang berantakan. Dan untuk sesaat, aku
merasa sesuatu di dalam diriku ikut meluruh, meski hanya sedikit. Cukup,
setidaknya untuk membuatku merasa tidak terlalu berat.
Lalu
dalam keheningan itu, tiba-tiba aku menyadari bahwa “Pulang itu adalah terus
berjalan. Semakin berjalan maju, maka semakin dekat dengan kepulangan, pulang
pada yang benar-benar jadi tempat untuk kembali.”
Aku
tersenyum tipis. Mungkin memang seperti itu caranya. Tidak apa-apa jika hidup
terasa berat. Tidak apa-apa kalau langkahku terseok-seok. Karena Tuhanku tidak
meminta aku ‘tuk jadi yang sempurna. Ia hanya memintaku untuk tetap berjalan
menuju-Nya dan meninggalkan larangan-Nya—meski dengan napas terengah dan
langkah yang goyah.
Dan
di saat itulah aku tahu—aku akan baik-baik saja.