CINTA PERTAMA, LUKA PERTAMA
Bentakan
keras membelah keheningan malam, membentur dinding-dinding rumah kecil itu,
mengguncang setiap sudut yang sepi. Mata Sinta membelalak, jantungnya berdetak
kencang dalam ketakutan yang tak kunjung pudar.
“Anak
bodoh! Tak ada gunanya! Kau pikir, hidup ini main-main?” suara ayahnya
menggema, penuh amarah yang selalu siap menerkam. Tubuh Sinta tergetar, tak
berani mengangkat wajahnya. Ia tahu, tatapan itu—tatapan yang tajam dan penuh
celaan—akan menusuk jiwanya lagi.
Sekali
lagi, telapak tangan ayahnya membekas di pipinya, menyisakan rasa panas dan
perih yang menyebar hingga ke hatinya. Sinta menunduk, menahan tangis yang
sudah menggenang, berusaha menguatkan diri, meski entah untuk apa lagi kekuatan
itu. Di balik matanya yang terpejam, ia berharap ada tempat lain di dunia ini
yang mampu memberinya pelukan, bukan rasa sakit. Namun, sepertinya yang ada
hanyalah malam yang terus bisu, menyimpan rahasia luka-lukanya dalam diam.
“Ayah….
Aku sudah berusaha,” suaranya lirih, nyaris tak terdengar di tengah kemarahan
ayahnya.
“Berusaha?
Ha! Usaha macam apa yang membuat kau selalu gagal? Kau cuma beban, tahu?!”
Ayahnya meludah dengan kebencian yang entah dari mana datangnya. “Anak lain
bisa membanggakan orang tuanya, tapi kau? Cuma bisa bikin malu keluarga!”
Bentakan itu menusuk hati Sinta, seolah setiap kata dirancang untuk meruntuhkan
dirinya yang sudah rapuh. "Seumur hidup, aku menyesal punya anak seperti
kamu," lanjutnya tanpa ragu, membuat dada Sinta terasa sesak, seperti
diikat oleh rasa kecewa yang tak bisa ia lepaskan.
Kata-kata
itu seperti pisau yang mengiris perasaannya, menancap hingga ke dasar hatinya. Sinta
berdiri mematung, merasakan hawa dingin merayap ke seluruh tubuhnya, meski di
pipinya masih terasa panas bekas tamparan tadi. Napasnya tercekat, seolah tak
ada lagi udara di ruangan sempit itu. Seakan-akan dinding-dinding rumah itu
merapat, menghimpitnya, mendorongnya untuk menyusut menjadi sekecil mungkin,
agar tak terlihat, agar bisa lenyap dari pandangan ayahnya.
Matanya
mulai kabur oleh air mata, tapi ia tahu ia tak boleh menangis—tidak boleh jika
di hadapan ayah yang hanya akan menganggapnya lemah. Dengan susah payah, ia
mengangkat wajahnya, namun nyalinya surut ketika melihat kilatan dingin di mata
ayahnya yang tak sedikit pun menunjukkan rasa iba. Di dalam dirinya, ada suara
kecil yang berbisik agar ia pergi, meninggalkan tempat yang selalu membuatnya
merasa tak diinginkan. Tapi kakinya tak bisa bergerak, seolah akar dari
luka-luka itu telah menahannya di sana, di tempat yang tak pernah menganggapnya
berarti.
Ayahnya
masih berdiri di sana, napasnya memburu, namun tak sedikit pun ada tanda
penyesalan di wajahnya. Matanya masih menyala dengan bara kemarahan yang seakan
tak terpuaskan. Ia menatap Sinta dari ujung kepala hingga kaki, dengan tatapan
dingin dan penuh penghakiman, seolah dirinya bukanlah darah dagingnya sendiri,
melainkan beban yang tak diinginkan.
Sebelum
berbalik dengan langkah berat yang menghentak lantai, ia menatap sekali lagi ke
arah Sinta dengan pandangan yang nyaris kosong, tak ada kelembutan, tak ada
pengakuan seorang ayah kepada putrinya. Hanya kebencian yang entah dari mana
asalnya. Lalu, pintu kamar dihempaskan, dan suara langkah-langkahnya perlahan
menghilang di lorong. Meninggalkan Sinta sendirian, dengan sisa bau kemarahan
yang masih mengambang di udara, meresap ke setiap sudut ruangan yang terasa
semakin gelap dan menekan.
Dari
kecil, Sinta tumbuh dalam bayang-bayang sosok ayah yang keras dan penuh
tuntutan. Tak ada kenangan tentang pelukan hangat atau kata-kata lembut.
Ayahnya selalu bersikap dingin, seolah menganggap kasih sayang adalah tanda
kelemahan. Sejak usianya masih belia, Sinta telah terbiasa mendengar bentakan
dan cacian setiap kali melakukan kesalahan, sekecil apa pun itu.
Saat
teman-temannya menceritakan tentang ayah yang mengajarkan mereka bermain, atau
mendukung mereka di panggung sekolah, Sinta hanya bisa diam dan menunduk. Ia
tak tahu seperti apa rasanya dipeluk dan dipuji. Bagi Sinta, keberadaan ayah
adalah sosok yang harus dihindari, bukan dicari. Bahkan ketika Sinta berusaha
sekuat tenaga untuk membuat ayahnya bangga, usahanya selalu disambut dengan
cemooh dan kritikan. Ketika ia pulang dengan nilai bagus atau penghargaan,
ayahnya hanya menganggap itu sebagai kewajiban. Dan jika ia melakukan
kesalahan, sekecil apa pun, tamparan dan kata-kata kasar tak pernah absen.
Seiring waktu, Sinta mulai paham bahwa ia tak bisa memenuhi harapan ayahnya,
karena dalam pandangan ayah, dirinya selalu kurang, selalu salah.
Malam-malam
panjangnya penuh dengan keheningan yang menyakitkan. Sering kali, ia
bertanya-tanya sendiri di dalam gelap kamarnya, mengapa ia tidak bisa
mendapatkan sosok ayah yang seperti di cerita-cerita, yang mencintai tanpa
syarat dan melindungi dengan kasih.
Sinta
teringat pada kisah dalam buku-buku yang dibacanya diam-diam, di mana para ayah
menjadi pahlawan yang gagah, penuh cinta, selalu melindungi anak-anak
perempuannya. Ayah yang akan mengangkat mereka ketika terjatuh, bukan menampar
dan menendang ketika mereka salah.
Malam
itu, di tengah remang kamar yang dingin, ia mendekap dirinya sendiri, mencoba
menghangatkan hati yang terlalu sering dirundung sepi dan kebencian. Ia sadar,
dalam hidupnya yang sunyi, tak ada cinta pertama yang ia harapkan dari sosok
ayahnya. Ayah baginya adalah luka pertama, luka yang dalam dan tak bisa
dihapus,
Sinta berbisik dalam hati, “Seandainya, hanya seandainya, Ayah bisa menjadi tempatku pulang, tempatku merasa aman.” Tapi harapan itu hanya tinggal harapan yang pudar seiring waktu, hanyut bersama air mata yang tumpah malam itu. Kini, ia menyadari bahwa cinta yang diimpikannya mungkin tak pernah akan datang dari sosok ayahnya, dan perlahan, ia belajar menerima—menerima bahwa ada luka yang takkan pernah sembuh, namun tetap harus diterima sebagai bagian dari hidupnya. Luka itu mungkin akan selalu mengingatkannya pada rasa sakit yang mendalam, tetapi ia juga tahu, ayah adalah ayah—bagian dari hidupnya yang tak bisa ia ubah, sosok yang meski penuh kekurangan, tetaplah orang tua yang telah memberinya kehidupan. Sinta, dengan segala ketegaran, memilih untuk memaafkan dalam diam, merelakan luka itu ada tanpa lagi menyalahkan, dan membiarkan rasa ikhlas tumbuh di dalam dirinya.