[CERPEN] JALAN PULANG YANG HILANG


 

JALAN PULANG YANG HILANG

Aku duduk di tepi dermaga, menatap garis horison yang perlahan terbenam dalam semburat jingga. Jemariku menggenggam secangkir kopi yang telah dingin, tapi kuhirup juga aroma pahitnya, berharap bisa menenangkan gejolak yang tak lagi mampu kuredam. Angin sore mengusap wajahku dengan lembut, seolah ingin membisikkan sesuatu yang tak pernah kumengerti.

Di sekelilingku, bayangan nelayan yang bersiap pulang dan suara ombak yang berkejaran menjadi latar dari kesunyian ini. Namun, rasanya semua hanya hampa, hanya kebisingan yang menggenang tanpa arti. Tanpa dirimu, tempat ini tak lagi sama, sepi menggema dan melenggang tanpa ujung.

Di bawah langit senja yang renta, langkahku terasa seperti beratnya bumi yang kusangga sendiri. Kepergianmu seperti deru angin yang menghempas jiwaku tanpa sisa. Kini, setiap jalan hanyalah lorong kosong yang tiada berujung, sebuah labirin tak terpecahkan yang mengasingkanku dari segala arti pulang.

“Aku tak mencari peta yang menuntunku pulang. Karena tanpamu, tak akan ada lagi jalan pulang yang sebenar-benarnya.” Batinku.

Pernah, aku menggenggam tanganmu seperti memeluk senja yang karam di ufuk barat. Dalam jari-jemarimu, kutemukan tenang yang begitu sederhana. Wajahmu yang berbalut redup seolah menyatukan semua arah; di situlah aku menancapkan jangkar harapan dan menyandarkan segala rindu. Namun, waktu, dengan tak berperasaannya, menarikmu menjauh seperti ombak yang enggan kembali. Dan kini, engkau lenyap bagai bayangan yang dipadamkan malam, menyisakan aku dalam kekosongan yang tak terdeskripsikan.

Aku terus bergerak, sayangnya selalu kembali pada titik yang sama: satu sudut kenangan yang membisu, yang mencipta ruang tak bertuan dalam hatiku. Aku mendapati diri dalam perjalanan yang bukan untuk menemukan pulang, melainkan untuk melepaskan ingatan yang terjalin di antara jalinan waktu. Bukan lagi tentang kembali ke sebuah tempat, tetapi tentang meloloskan diri dari bayang-bayangmu yang terus mengikuti. Aku berjalan tanpa arah, bukan untuk sampai, melainkan untuk menyusuri setiap serpihan kenangan, berharap kelak akan pudar seiring langkah-langkah yang tak pernah berhenti.

Kamu tahu ‘kan? Tanpamu, jalan pulang hanyalah kata kosong yang kehilangan makna.

Mungkin aku bisa kembali ke sebuah rumah dengan dinding dan atap, tapi tanpa hadirmu, ia hanyalah bangunan tak bernyawa. Sebuah rumah, tanpa jiwa yang pernah kukenali sebagai 'kamu', bukanlah pulang. Pulang adalah tempat yang mengenalku, yang menerima tanpa syarat, yang menyisakan ruang untuk luka dan tawa tanpa harus menjelaskan apapun.

Aku mulai menyadari; tak akan ada lagi jalan pulang yang sebenar-benarnya, semua jalan hanya membawaku kembali pada kekosongan, sebab bayangmu masih bersemayam dalam tiap sudut ingatan yang tak bisa kuhindari.

Tepat saat aku mulai menerima kesendirian yang membentang, layar ponselku bergetar pelan, menampilkan namamu yang selama ini kukira telah hilang di luar jangkauan.

Pesanmu terbaca jelas, sederhana namun menggetarkan, "Aku ingin pulang pada pelukmu, saat ini juga. Kamu di mana?"

Hati yang sempat kubiarkan kosong itu tiba-tiba terasa penuh sesak, dibanjiri rindu yang sekian lama kupendam dan harapan yang pernah kuikhlaskan. Kata-kata itu seolah menuntun langkah yang sudah nyaris tersesat, memberi arah pada perjalanan tanpa tujuan, dan sekali lagi, aku merasakan seolah dunia ini menghamparkan jalan pulang yang selama ini hilang.

Ternyata, bukan aku yang kehilangan jalan pulang, hanya kamu yang terlalu lama berkelana.