SIAPKAH KITA?
Siapkah
kita saat dunia tiba-tiba lengang, ketika hiruk-pikuk suara berganti dengan
lantunan kalimat yang menggema dari pengeras suara masjid? Saat keramaian yang
kita kenal sehari-hari mendadak terhenti, dan hanya suara serak yang menggema
di udara, mengumumkan satu kalimat yang tak ada seorang pun dari kita sanggup
menampiknya:
“Innalillahi
wa inna ilaihi rojiun… Telah meninggal dunia…” dan nama kita yang disebut.
Benarkah
kita sudah siap menghadapi perjalanan ini? Saat nafas kita berhenti menjadi
sekadar riwayat, adakah kita telah cukup menghimpun bekal yang akan menyinari
jalan di antara sunyi dan misteri? Atau, dalam hati yang terdalam, masih
tersimpan keresahan—bahwa mungkin perjalanan ini lebih asing, lebih kelam, dari
apa yang pernah kita bayangkan? Di bawah langit yang membisu, kita dihadapkan
pada pertanyaan yang tak terjawab: cukupkah semua yang kita perbuat, atau
justru tertinggal lebih banyak hal yang kita abaikan, doa yang kita lupakan,
kebaikan yang belum diselesaikan?
Bayangkanlah,
saat hari itu tiba, ketika kegelapan perlahan memeluk, dan kerumunan berkumpul
di depan rumah, di pelataran masjid, mengirim doa yang tak berbalas,
menggumamkan nama kita dalam sayup yang tergetar.
Siapkah
kita melepas dunia yang sering kali kita genggam erat, seakan kita takut
kehilangannya? Apa yang telah kita persiapkan untuk pertemuan dengan keabadian?
Seringkali kita lupa. Kita sibuk menakar kehidupan, menggenggam segala yang
fana, tanpa pernah menghiraukan panggilan dari yang tak tampak, yang menunggu
di balik tabir terakhir.
Kematian
adalah kehadiran yang tidak kita undang, tetapi selalu menanti. Ia adalah tamu
yang tak kenal waktu, yang datang tanpa permisi, bahkan di saat kita paling
merasa hidup. Ia menyelinap tanpa suara, di antara hembusan napas, dalam detak
jantung yang tak pernah benar-benar kita perhatikan.
Kematian
adalah akhir yang tak pernah bisa kita tawar. Meski kita berlari sejauh
mungkin, atau bersembunyi di balik segala pencapaian dan harapan, ia selalu
setia menunggu. Layaknya bayang-bayang yang tak bisa dilepaskan, ia mendekat
perlahan, menyatu dengan malam-malam kita, membayang dalam kesendirian kita.
Kematian tidak peduli akan tawa kita, ambisi kita, atau harapan yang kita
gantungkan di langit. Ia hanyalah jawaban terakhir, kepastian yang mutlak, yang
hadir di luar kendali kita.
Saat
ia tiba, kita hanya menjadi saksi bisu pada berakhirnya semua hal fana yang
dulu kita anggap abadi. Cinta, rasa, segala ikatan dengan dunia—semuanya luluh,
menguap, meninggalkan kita seorang diri, telanjang di hadapan takdir. Kematian
adalah batas yang memisahkan segala yang kita tahu dan yang tidak kita ketahui,
antara dunia yang dapat kita sentuh dan dunia yang tak terjangkau oleh mata.
Saat
pengumuman itu menyebut nama kita, tak ada lagi yang bisa kita genggam selain
jiwa yang siap atau tidak siap—yang dihadapkan pada kesunyian abadi.
Hari
itu, dunia tak lagi memanggil kita dengan suara hangat yang pernah kita kenal.
Hanya gema samar yang tersisa. Hanya doa yang terbang, membawa nama kita di
antara malaikat yang mencatat setiap jejak kita—benarkah kita sudah siap
menghadapi perjalanan ini?
Sekarang,
pertanyaannya, “Sudah sampai mana kita mempersiapkan bekal itu?”
Karena
pada akhirnya, siapa yang tahu, bahwa hari ini mungkin detik terakhir sebelum
nama kita dipanggil, dan gema itu menyebar, melintasi sunyi, menghadap Ilahi.