Malam kembali jatuh dengan sunyi yang melingkar di antara dinding-dinding kamar. Aku duduk di haadapan lembaran kertas yang telah menguning, menelusuri baris-baris kalimat yang kutulis bertahun-tahun lalu. Setiap kata terasa seperti jejak yang membawaku kembali kepadamu—kepada hari-hari yang dulu kita jalani bersama, kepada suara yang pernah memenuhi ruang kosong di dalam dada. Waktu terus berjalan, tapi di sini, dalam aksara yang kugoreskan, kau tetap tinggal, seolah tak tersentuh oleh usia. Aku membaca namamu berulang kali, dan dalam setiap pengucapannya, aku merasakan kehadiranmu yang samar, seperti bayangan yang enggan sepenuhnya menghilang.
Aku menulis tentangmu, tentang bagaimana matamu menangkap cahaya senja di beranda, tentang caramu menyebut namaku dengan lembut, seakan huruf-hurufnya terbuat dari sesuatu yang rapuh. Aku menulis tentang kita, tentang percakapan yang tak pernah selesai, tentang rencana-rencana yang akhirnya hanya menjadi mimpi yang tak pernah sempat diwujudkan.
Dan kini, setelah waktu merenggut kehadiranmu dari sisiku, aku bertanya-tanya: lalu di mana lagi kutemukan dirimu, jika bukan pada aksara yang telah kutulis dulu?
Mereka bilang, yang telah pergi akan benar-benar hilang jika tak ada yang mengingatnya. Tapi bagaimana mungkin aku melupakanmu jika setiap huruf yang kurangkai masih menyimpan bayangmu? Kau masih di sana—di sela-sela baris puisi yang belum selesai, di dalam metafora yang kupilih dengan hati-hati, di antara jeda yang menyimpan luka yang tak terucap.
Barangkali, inilah cara takdir membiarkanmu tetap hidup di dalamku. Bukan dalam wujud nyata, bukan dalam suara yang bisa kusapa, tapi dalam aksara yang terus mengekalkanmu.
Kau menjelma menjadi diksi yang paling kurawat, menjadi kalimat yang paling kusayangi, menjadi cerita yang tak ingin kututup.
Dan jika suatu hari aku berhenti menulis, bukan berarti aku melupakanmu. Aku hanya telah berdamai dengan kepergianmu, menerima bahwa beberapa cerita memang ditakdirkan untuk berhenti tanpa akhir yang bahagia. Namun, selama aksara ini masih ada, kau tak akan pernah benar-benar hilang.
Sebab kata-kata adalah rumah terakhir bagi yang telah pergi. Dan aku memilih menyimpanmu di sana—di antara huruf-huruf yang selalu merindukanmu.
